Ternyata, Musibah Membawa Kebaikan

Standard

Hikmah Musibah, Agar Hamba Segera Bertaubat

Di antara sekian banyak hikmah musibah yang Allah berikan kepada hambanya adalah sebagai peringatan agar mereka kembali/bertaubat kepadaNya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali/bertaubat.” (QS. Ar Ruum: 41)

Musibah yang kita hadapi ini tidaklah ada apa-apanya jika kita bandingkan dengan musibah yang menimpa orang tua kita Adam ‘alaihis salam yaitu dikeluarkan dari Surga tempat yang penuh kenikmatan setelah dulu pernah merasakannya. Disebabkan tobatnya yang sempurna, Allah anugrahkan kepadanya kenabian, Allah terima taubatnya, Allah berikan ia petunjuk berupa hidayah dan Allah angkat derajatnya. Kalaulah bukan sebab cobaan yang Allah berikan kepadanya berupa dikeluarkan dari surga maka tidaklah beliau mendapatkan kenikmatan di atas. Lihatlah keadaan beliau setelah berbuat keasalahan dan Allah timpakan kepadanya musibah kemudian ia bertaubat dengan sebenar-benar taubat lebih mulia daripada keadaan sebelumnya. [9]

Musibah Sebagai Penghapus Dosa

Hikmah dari musibah yang tak kalah agungnya dibanding hal di atas adalah sabar. Jika Allah timpakan kepada seorang hamba musibah apabila ia bersabar maka musibah tersebut merupakan penghapus dosa baginya [10], sebagaimana sabda Nabi yang mulia ‘alaihish sholatu was salam, “Akan senantiasa seorang laki-laki dan perempuan yang beriman ditimpa musibah pada jiwanya, anaknya dan hartanya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa/salah.” [11]

Musibah Merupakan Nikmat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan, “Musibah merupakan nikmat karena ia merupakan penghapus dosa, juga merupakan suatu hal yang mendorong diri untuk sabar sehingga mendapatkan pahala sabar, merupakan suatu hal yang mendorong diri untuk kembali kepada Allah dengan keta’atan/inabah, merendahkan diri dihadapanNya dan menghindar dari pandangan manusia (sehingga jauh dari riya’)”. Akan tetapi beliau rohimahullah mengaitkan hal ini dengan sabar dan tidak berlaku apabila seorang hamba ditimpa musibah kemudian ia meninggalkan hal-hal yang wajib atau melakukan sebagian maksiat. [12] Kemudian perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang balasan bagi orang yang sabar (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)

Dan sabar adalah dimulai pada saat awal musibah menimpa kita, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, “(Sesungguhnya yang dikatakan) Sabar adalah sabar pada awal sesuatu yang dibenci.” [13]

Musibah Merupakan Tanda Cinta Allah pada HambaNya yang Ridho

Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda, “Sesungguhnya besarnya balasan sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah jika Ia mencintai suatu kaum maka Allah akan coba/timpakan pada mereka musibah, barangsiapa yang ridho maka baginya ridho Allah dan barangsiapa yang marah terhadap cobaan/musibah dari Allah mak baginya murka Allah.” [14]

Ibnu ‘Aun rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya seorang hamba tidaklah mencapai hakikat dari ridho sampai dia menjadikan ridhonya ketika tertimpa kefakiran dan musibah sebagaimana ridhonya ketika diberikan kecukupan dan kesenangan/kelapangan.” [15]

Dengan demikian kami mengajak diri kami sendiri dan para pembaca sekalian, marilah kita mewaspadai dua penyakit di atas dengan giat menuntut ilmu agama dan diiringi dengan mengamalkannya serta melaksanakan apa yang menjadi kewajiban orang yang ditimpa musibah yaitu bertaubat, bersabar, lebih jauh lagi dianjurkan untuk ridho terhadap musibah. Allahu A’lam bish Showab. [Aditya Budiman]

[9] Lihat Miftah Daaris Sa’adah oleh Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rohimahullah hal. 302/II, dengan tahqiq dari Fadhilatusy Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halaby hafidzahullah, terbitan Dar Ibnu ‘Affan, Kairo, Mesir
[10] Lihat Syarh Riyadush Sholihin oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah hal. 140/I cetakan Darul Aqidah, Kairo, Mesir
[11] HR. At Tirmidzi no. 2399, hadits ini dinyatakan Hasan Shohih oleh Al Albani rohimahullah dalam takhrij beliu untuk Sunan At Tirmidzi hal. 431 terbitan Maktabah Ma’arif, Riyadh, KSA
[12] Lihat Taisil ‘Azizil Hamiid fi Syarhi Kitabit Tauhid oleh Syaikh Sulaiman bin Abdullah, hal. 446-447, dengan tahqiq oleh Syaikh Zuhair Asy Syawis, terbitan Al Maktab Al Islamiy, Beirut, Lebanon
[13] HR. Bukhori no. 1252, Muslim no. 2136
[14] HR. Tirmidzi no. 2396, , hadits ini dinyatakan Hasan Shohih oleh Al Albani rohimahullah dalam takhrij beliau untuk Sunan At Tirmidzi hal. 540
[15] Lihat Taisil ‘Azizil Hamiid fi Syarhi Kitabit Tauhid hal. 451

sumber : buletin.muslim.or.id

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s