Skala Prioritas dalam Beramal di Bulan Ramadhan

Standard

Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperbaharui semangat kita dalam beribadah kepada ALLAH. Akses dan fasilitas untuk beramal shalih dipermudah oleh ALLAH. Dalam bulan ini pahala dilipatgandakan, do’a-do’a dikabulkan, gembong-gembong syaithan dari bangsa jin dibelenggu, pintu surga dibuka dan sebaliknya pintu neraka ditutup rapat-rapat. Suasananya pun tidak kalah syahdu  nan sulit ditemui di dalam bulan-bulan yang lain. Banyak muka-muka baru hadir di masjid-masjid kita, tua muda, miskin kaya dengan semangat 45 aktif  mengisi waktu-waktu mereka di rumah-rumah ALLAH. Asma ALLAH digemakan, majelis-majelis pengajian pun mulai mendapat perhatian kaum muslimin. Orang-orang tidak terlalu berfikir keras untuk mengeluarkan sebagian kecil hartanya untuk sesama, tangan-tangan ini terasa lebih ringan untuk diulurkan kepada saudaranya, dan masih banyak lagi pemandangan langka yang dapat kita saksikan dengan mudah di dalam bulan yang penuh berkah ini.

Namun yang sangat disayangkan -akan tetapi mengandung hikmah yang besar- adalah bulan yang penuh rahmat ini sangat singkat. Dia hanya singgah di hari-hari kehidupan kita selama 29/30 hari saja, setelah itu dia akan pergi meninggalkan kita, padahal daftar amal shalih yang bisa/ingin kita lakukan sangat banyak dan membutuhkan waktu yang lebih lama dari hanya sekedar 30 hari saja. Sehingga membuahkan kesimpulan yang jelas bahwa kita tidak mungkin mengerjakan seluruh amal shalih dengan berbagai macam bonus pahalanya dalam bulan yang mulia nan singkat ini. Dan kenyataan ini pun sudah diketahui oleh Rasulullah sehingga beliau bersabda dalam hadits yang bemakna umum:

(( سددوا و قاربوا و اعملوا و خيروا  )). رواه أحمد وابن حبان و حسنه الألباني.

“Kerjakan seluruh keta’atan dan dekatilah kesempurnaan dan beramallah dan pilihlah”.    HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Albani.

Dalam hadits ini Nabi memerintahkan kita untuk istiqamah, dan makna istiqamah adalah mengerjakan seluruh perintah yang ada (baik wajib maupun sunnah) dan menjauhi seluruh larangan yang ada (baik haram maupun makruh). Namun Nabi tahu bahwa umatnya tidak mungkin mampu melaksanakan perintah yang sangat berat ini karena amal kebaikan sangat banyak sekali sedangkan waktu kita sangat terbatas dan disisi lain kita mengetahui secara pasti bahwa seluruh anak manusia pasti berdosa dan banyak melakukan dosa.

Oleh karena itu,  Nabi tidak langsung menyudahi sabdanya tapi melanjutkannya dengan mengatakan: “Dekatilah kesempurnaan dan beramallah dan pilihlah”. Lanjutan dari sabda Nabi ini membuat kita bernapas lega dan bersyukur serta semakin mantap meyakini bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, agama yang mudah dan tidak membebankan kita diluar batas kemampuan kita. Kita pun mendapat pelajaran berharga dari sabda ini bahwa kita harus membuat skala prioritas dalam beramal karena waktu yang kita miliki dalam kehidupan ini sangat singkat tapi disisi lain amal-amal shalih sangat banyak -termasuk di dalamnya bulan Ramadhan-. Kita harus mengutamakan ibadah/amal shalih yang terpenting dan terproduktif dalam menghasilkan pahala bagi pelakunya, sehingga kita dapat tersenyum manis ketika kita keluar dari bulan Ramadhan -secara khusus- atau dunia yang fana ini -secara umum-.

Diantara amal-amal tersebut -khususnya di bulan Ramadhan- adalah:

  1. Menjaga tauhid dan keimanan kita dari noda-noda syirik dan kekufuran.

Hal ini dikarenakan bersihnya tauhid dan aqidah seseorang adalah syarat diterimanya amal ibadah kita yang lain. Tauhid dengan amal shalih kita seperti wudhu dengan shalat kita. Tanpa wudhu, shalat dengan kekhusyuan yang tinggi dan rakaat yang banyak tidak ada artinya dihadapan ALLAH. Begitupun juga, amal shalih kita yang melimpah ruah, kerja keras kita di bulan Ramadhan dan selainnya hanya akan berakhir menjadi debu atau buih jika ternodai dengan syirik, ALLAH berfirman:

) وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ ( الزمر 65.

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi sebelummu: Jika kamu mempersekutukan ALLAH niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. Az Zumar:65.

Orang-orang yang pertama kali masuk ke dalam ancaman ALLAH ini adalah Rasulullah dan Nabi-nabi yang lain, pemuka ahli tauhid yang berada di shaf terdepan dalam bertauhid kepada ALLAH, orang-orang yang mengabdikan kehidupannya untuk berdakwah kepada tauhid, namun jika mereka menyekutukan ALLAH maka amal-amal yang telah mereka lakukan detik demi detiknya dalam kehidupan ini tidak ada harganya sama sekali dan akan hancur berantakan dengan seketika.

Maka mari kita renungkan dan menjaga tauhid kita agar tetap bersih dari noda-noda syirik, hindari berdoa kepada selain ALLAH, hindari meminta syafa’at/bertawassul kepada orang-orang yang sudah mati/penghuni kubur, jauhkan langkah kaki kita dari praktek-praktek ramalan dan orang-orang yang dianggap pintar dalam tanda petik.

2.   Mempriotaskan ibadah-ibadah wajib.

Hendaknya orang yang berpuasa itu memprioritaskan amalan yang wajib karena amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan-amalan yang wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam suatu hadits qudsi bahwa Allah ta’ala berfirman:

(( وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه )). رواه البخاري

“Dan tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan-amalan yang Ku-wajibkan.” (HR. Bukhari)

Diantaranya seperti:

  1. Menjaga shalat wajib.

Cukuplah bagi kita fakta bahwa ulama telah sepakat bahwa dosa meninggalkan shalat lebih besar dari dosa bezina dan kemaksiatan-kemaksiatan yang lain[1]. Bahkan ulama mengatakan bahwa jika dilihat dari dosanya, orang yang tidak puasa tapi dia shalat itu lebih baik daripada orang yang berpuasa tapi tidak shalat. Karena Nabi pernah bersabda:

(( العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر )) رواه الترمذي وصححه الألباني.

“Perjanjian antara kita dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir”. HR Tirmidzi dan dishahihkan Albani.

  1. Shaum secara sempurna sebulan penuh kecuali dengan udzur syar’i.

Cukuplah sebagai motivasinya hadits qudsi berikut ini:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r: (( كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ )). رواه مسلم 2763

Rasulullah bersabda: “Seluruh amal anak adam dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, ALLAH berfirman: kecuali puasa karena puasa untukKu dan Aku yang akan mengganjarnya dengan puasanya tersebut, dia telah meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku. Orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu Rabnya. Dan bau mulut orang yang berrpuasa lebih harum di sisi ALLAH dibandingkan aroma katsuri”. HR Muslim 2763.

  1. Zakat fitri.

Zakat ini berfungsi sebagai penyempurna puasa kita dan penghapus dosa kekhilafan kita dalam menjalani ibadah puasa.

(( فرض رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زكاةَ الفِطْرِ: طُهْرةً للصائم من اللَغْوِ والرَفَثِ،وطُعْمَةً للمساكينِ، مَنْ أدَاها قبل الصلاة؛ فهي زكاةٌ مقبولةٌ ، ومَنْ أدَّاها بعد الصلاة؛ فهي صَدَقَةٌ من الصدقات )). رواه أبو داود وحسنه الألباني

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitri untuk membersihkankan orang yang berpuasa dari hal yang sia-sia dan hal yang tidak pantas yang dia telah perbuat dan untuk memberi makan fakir miskin. Barangsiapa yang membayarnya sebelum shalat ‘ied maka itu adalah zakat yang sah dan barangsiapa yang membayarnya setelah shalat ‘ied maka itu hanya berupa shadaqah dari shadaqah-shadaqah yang biasa”. HR Abu Daud dan dihasankan oleh Albani.

3. Amalan-amalan sunnah spesialisasi bulan Ramadhan dan mengandung keutamaan yang luar biasa, diantaranya:

  1. Shalat terawih di setiap malam bulan ramadhan.

Rasulullah menjelaskan keutamaan ibadah ini dengan sabdanya:

(( مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ )). متفق عليه

“Barangsiapa yang shalat malam di bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala di sisi ALLAH  maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni oleh ALLAH”. HR Bukhari dan Muslim.

Dan sangat dianjurkan agar dilaksanakan secara berjamaah bersama kaum muslimin berdasarkan sabda Rasulullah berikut ini:

(( من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة )). رواه الترمذي وصححه الألباني

“Barangsiapa shalat tarawih bersama imam sampai selesai maka dia mendapatkan pahala shalat semalam suntuk (mulai terbenamnya matahari sampai terbit fajar)”.   HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh Albani.

  1. Tilawah Al Qur’an.

Dengan berinteraksi dengan Al Quran kita akan lebih menjiwai dan memaknai bulan Ramadhan ini karena sudah merupakan pengetahuan umum bahwa Ramadhan adalah bulan Al Quran, bulan dimana Al Quran itu diturunkan. Disamping itu, membaca     Al Qur’an adalah ibadah yang sangat produktif dalam menghasilkan pahala bagi pembacanya, simaklah sabda Nabi berikut ini:

(( من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول : ( ألم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرفا )) رواه الترمذي وصححه الألباني

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka dia akan mendapatkan satu kebaikan dengan bacaannya tersebut dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf namun alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”. HR Tirmidzi dan dishahihkan Albani.

  1. Umrah di bulan ramadhan.

Nabi bersabda kepada seorang wanita anshar:

(( فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِي فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي )). رواه البخاري

“Jika bulan ramadhan telah datang maka berumrahlah di bulan ramadhan karena umrah di bulan ramadhan pahalanya sama dengan haji atau haji bersamaku”.        HR Bukhari.

  1. I’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.

– ((أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ )). متفق عليه

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir pada bulan ramadhan sampai beliau meninggal kemudian dilanjutkan oleh istri-istri beliau”. HR Bukhari dan Muslim.

  1. Memperbanyak sedekah.

((كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ)).        رواه البخاري

“Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan dan kedermawanan beliau semakin bertambah di bulan Ramadhan”. HR Bukhari.

4. Dan yang terakhir, yang sangat layak menjadi perhatian kita adalah pencarian malam yang lebih mulia dari 83 tahun / 4 bulan atau 1000 bulan. Ya, malam itu bernama bulan lailatul qadar. Carilah di malam-malam ganjil pada 10 malam terakhir,

(( تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ )) متفق عليه

“Carilah malam lailatul qadar di malam yang ganjil dalam sepuluh malam terakhir bulan ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim.

Dan hanya orang yang merugi yang tidak mendapatkan nikmat dan fadhilah lailatil qadar.

(( إن هذا الشهر قد حضركم وفيه ليلة خير من ألف شهر من حرمها فقد حرم الخير كله ولا يحرم خيرها إلا محروم )) رواه ابن ماجه وقال الألباني حسن صحيح

“Sesungguhnya bulan ramadhan telah hadir di tengah-tengah kalian dan didalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan, barangsiapa yang tidak mendapatkannya maka dia tidak akan mendapatkan seluruh kebaikan dan tidak ada yang terhalang dari kebaikannya kecuali orang yang merugi”. HR. Ibnu Majah dan Albani mengatakan hasan shahih.

Dan akhirnya mari kita sama-sama berdo’a dan berharap kepada ALLAH agar kita dapat keluar dari bulan Ramadhan dengan predikat Taqwa. Amin.

Buah Pena : Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry, Lc


[1] . seperti yang dinukilkan oleh Imam Ibnul qayyim dalam karya ilmiah beliau: shalat dan hukum-hukum orang yang meninggalkannya hal 31



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s