Rizki : Hak Allah Semata

Standard

Berkaitan dengan permasalahan rizki yang telah Allah Ta’ala tentukan dan anugerahkan kepada setiap hamba-Nya, maka ada beberapa hal yang harus menjadi keyakinan seorang muslim, diantaranya:

  • Menyakini bahwa di antara sifat fi’liyah yang dimiliki Allah Subhaanahu wa ta’ala dan menunjukkan kesempurnaan rububiyah-Nya adalah Allah Ta’ala sebagai Dzat satu-satunya Pemberi Rizki kepada semua makhluk-Nya. Dia sendiri yang menentukannya sesuai dengan kadar masing-masing sejak 50 ribu tahun sebelum bumi diciptakan, kemudian ketentuan ini juga ditulis oleh malaikat bagi manusia sejak mereka berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, dan hal ini termasuk bagian dari konsekwensi iman terhadap qadha dan qadar Allah Ta’ala bagi setiap muslim.

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. 11:6)

“Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal dunia sampai ia meraih seluruh bagian rizkinya, maka bertakwalah kepada Allah dan lakukan cara yang baik dalam mencari rizki”. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani). Dengan demikian tak ada seorangpun yang dapat merubah ketentuan Allah subhanahu wata’ala.

  • Meyakini bahwa Allah Ta’ala telah membagi dan memberikan keutamaan kepada sebagian orang atas sebagian lainnya berkaitan dengan rizki yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan keturunan, warna kulit, kedudukan, kehormatan, kepandaian, bahkan keta’atan dan kemaksiatan seseorang. Namun Allah Ta’ala memberikan nikmat-Nya kepada seluruh makhluk-Nya untuk suatu hikmah dan tujuan yang hanya Dia ketahui dan kehendaki semata. Sehingga ada sebagian di antara manusia mendapatkan harta yang cukup atau bahkan melimpah ruah dan sebagian lain justru sebaliknya, serba kekurangan dan menghadapi kesulitan hidup.

“Dan Allah telah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah”. (QS. 16:71)

Namun yang terjadi, betapa banyak orang yang telah Allah Ta’ala karuniakan rizki melimpah, kedudukan tinggi, keluarga terpandang di masyarakat tidak mendapatkan dan merasakan sedikitpun dari kebahagian hidup di dunia dan di akhirat, karena jauhnya mereka dari tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Sebaliknya betapa banyak orang yang hidupnya serba kekurangan dan pas-pasan, mereka justru dapat merasakan ketenangan, kebaikan yang banyak, serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Inilah rizki yang hakiki yang tidak pernah akan diraih kecuali oleh orang-orang yang hati-hati mereka dihiasi dan dipenuhi dengan keimanan dan perasaan cukup dengan apa yang Allah subhanahau wata’ala anugerahkan. Ini lah rahasia di balik semuanya.

Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu pernah menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dan beliau mengatakan kepadanya, “Merasa cukuplah dengan rizkimu di dunia, sesungguhnya Allah Ta’ala telah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezki”

Maka manakala Allah Ta’ala menginginkan terhadap hamba-Nya satu kebaikan dan kebahagiaan, Dia akan memberikan keberkahan pada setiap keadaan dan urusannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu.Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 35:2)

  • Meyakini bahwa rizki yang Allah Ta’ala anugerahkan adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Syaikhul Islam Taqiyuddin pernah menuturkan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluk-Nya hanyalah untuk beribadah kepada-Nya, dan Dia menciptakan rikzi untuk mereka hanyalah untuk memudahkan mereka beribadah kepada-Nya.”

Tapi terkadang kemudahan rizki yang Allah subhanahu wata’ala berikan juga merupakan ujian dan cobaan, bahkan fitnah dan musibah bagi sebagian orang. Dan yang perlu diketahui oleh kita bahwa Allah Ta’ala memberikan rizki kepada hamba-Nya, tidaklah pasti menunjukkan kecintaan dan rida-Nya kepadanya. Allah Ta’ala telah menegaskan dalam firman-Nya, artinya, “Dan kepada orang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. al-Baqarah: 126).

“Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata”. (QS. Maryam: 74)

 sumber : alsofwah.or.id

Comments are closed.