Monthly Archives: February 2008

10 Kiat Sukses Bertetangga

Standard

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah sebaik-baik manusia kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya”. (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)
Banyak cara dan kiat untuk menjadi tetangga terbaik dan mendapatkan simpati dan cinta para tetangga, serta merasakan tulus dan mulianya kasih sayang dari mereka.
Di antara kiat-kiat yang paling utama dan sangat dianjurkan oleh Islam adalah sebagai berikut:

1. Tidak Menyakiti Tetangga dan Murah Hati.
Tidak salah lagi bahwa menyakiti tetangga adalah perbuatan yang diharamkan dan termasuk di antara dosa-dosa besar yang wajib untuk dijauhi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya”. (Muttafa’alaih) 
Demi Allah tidaklah seseorang beriman! Demi Allah tidaklah seseorang beriman! Demi Allah tidaklah seseorang beriman!, Mereka para sahabat bertanya, “Siapa ya Rasulullah?”. Rasulullah menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya”. (HR. al-Bukhari).

Di antara sikap memuliakan tetangga dan berbuat baik kepadanya adalah: memberikannya hadiah walaupun tidak seberapa nilainya.

2. Memulai salam
Memulai salam adalah bagian dari tanda-tanda tawadhu (rendah hati) seseorang dan tanda ketaatannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman,”…Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. 15:88)
Begitu juga menebarkan salam dapat menumbuhkan kasih sayang di antara kaum muslimin. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “… Maukah aku beritahu kepada kalian tentang sesuatu yang jika kalian mengerjakannya, maka kalian akan saling mencintai: Tebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

3. Bermuka berseri-seri (ceria)
Berwajah berseri-seri dan selalu tersenyum saat bertemu dengan para shahabatnya adalah merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. at-Tirmidzi. Dishahihkan oleh al-Albani).

4. Menolong Saat dalam Kesulitan.
Di antara memelihara dan menjaga hak-hak bertetangga adalah dengan menolong tetangga saat dalam kesulitan/ saat ia membutuhkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya asy’ariyyin (suku asy’ari) adalah jika perbekalannya habis, atau jika persediaan makanan untuk keluarganya di Madinah tinggal sedikit, mereka mengumpul kan apa yang mereka miliki dalam satu kain, lalu mereka membagikannya di antara mereka pada tempat mereka masing-masing dengan sama rata. Mereka adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian dari mereka.” (Hadits Muttafaq ‘alaih).

5. Memberikan Penghormatan yang Istimewa.
Intervensi dalam urusan pribadi tetangga adalah salah satu sebab yang dapat menimbulkan ketidakharmonisan dalam bertetangga. Seperti menanyakan hal-hal yang sangat khusus (pribadi). Contoh: “Berapa gajimu?” “Berapa pengeluaranmu tiap bulan?” “Berapa uang simpananmu (tabungan) di bank?” “Kamu punya berapa rekening?” Dan lain sebagainya.
Seorang muslim yang baik adalah seorang yang memperhatikan tata krama dalam bertetangga, tidak mencampuri urusan yang tidak bermanfaat baginya, dan tidak menanyakan urusan-urusan orang lain yang bersifat pribadi.

“Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. at-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh al-Albani).

6. Menerima Udzur (permohonan maaf).
Bersikap toleransi dengan tetangga, dan lemah lembut dalam berinteraksi dengannya merupakan salah satu kiat untuk menarik simpati tetangga. Contohnya: Dengan menerima permohonan maaf darinya, dan menganggap seolah-olah ia tidak pernah melakukan kesalahan tersebut. Karena tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah.  Bahkan yang lebih utama adalah memaafkannya sebelum ia meminta maaf. Sikap inilah yang dapat menambah kecintaan tetangga kepada kita.

7. Menasehati dengan lemah lembut.
Manusia yang berakal tentu tidak akan menolak nasehat, dan tidak pula membenci orang yang menasehatinya. Tetapi umumnya manusia tidak menerima kalau dirinya dinasehati dengan cara dan sikap yang kasar serta tidak beretika. Allah subhanahu wata’ala sungguh telah memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengaruniakan sifat lemah lembut kepada beliau, sebagai- mana firman-Nya, artinya, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…” (QS. Ali ‘Imran: 159)
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (Hadits Muttafaq ‘alaih).
Seorang muslim yang baik ketika ia tahu tetangganya berbuat maksiat adalah menasehatinya dengan lemah lembut, dan mengajaknya kembali ke jalan Allah shallallahu ‘alaihi wasallam, memotivasinya agar berbuat baik, dan memperingatkannya dari kejahatan, serta mendo’akannya tanpa sepengetahuannya. Sikap-sikap inilah yang dapat menarik simpati tetangga dan memperbaiki hubungan di antara tetangga.

8. Menutup Aib.
Seorang mu’min adalah seorang yang mencintai saudara-saudaranya, menutup aibnya, bersabar atas kesalahannya, dan menginginkan saudaranya selalu mendapatkan kebaikan ,taufiq serta istiqamah. Dengan sikap ini pula kita akan meraih simpati dan cinta tetangga. Nabishallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di Akhirat.” (HR. Muslim).

9. Mengunjungi.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang keutamaan berkunjung ini, “Sesungguhnya ada seorang yang mengunjungi saudaranya di suatu kampung. Maka Allah subhanau wata’ala mengutus seorang malaikat untuk mengawasi perjalanannya. Malaikat tadi bertanya kepadanya, “Mau ke mana kamu?”Lalu ia menjawab, “Saya mau mengunjungi saudaraku di kampung.” Lalu ia bertanya kembali, “Apa kamu ingin mengambil hakmu darinya?” Ia menjawab, “Tidak, tetapi karena saya mencintainya karena Allah”. Dia berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah subhanahu wata’ala kepadamu, dan sesungguhnya Allah subhanahu wata ‘ala mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim).
Seseorang hendaknya mencari waktu yang tepat untuk mengunjungi tetangganya. Tidak mendatanginya dengan tiba-tiba atau tanpa mengabarinya terlebih dahulu atau meminta izin kepadanya. Dan hendaklah tidak membuat tetangga merasa terbebani atau direpotkan dengan kunjungannya. Maka hendaklah ia tidak terlalu sering berkunjung, khawatir kalau hal itu membosankannya dan membuatnya menjauhkan diri darinya. Dan juga hendaklah tidak duduk berlama-lama saat berkunjung. Kiat-kiat inilah yang dapat membuat tetangga senang menyambut kunjungan kita, bahkan merindukan kedatangan kita untuk kali berikutnya.

10. Bersikap Ramah Tamah.
Di antara sekian banyak kiat sukses meraih simpati para tetangga dan mempererat hubungan di antara para tetangga adalah dengan bersikap ramah tamah terhadap mereka dengan ungkapan dan ucapan yang baik dan lembut, atau dengan memberikan hadiah istimewa kepadanya, atau dapat pula dengan mengundang mereka untuk makan di rumah kita, dan lain sebagainya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Perkataan yang baik dan pemberian ma’af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”. (QS. Al-Baqarah: 263).

Inilah beberapa kiat syar’i untuk meraih simpati para tetangga, menjaga dan menjalin kasih sayang dengan mereka. Semoga Allah subhanau wata’ala memberikan taufiqNya kepada kita. Sesungguhnya Dia Maha Pemberi taufiq dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan akhir da’wah kami “Segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam.”

(Abu Nabiel Muhammad Ruliyandi)ٌ

Sumber: “10 Thuruq Li Kasbi al-Jiran” (Dr. Ahmad bin ‘Utsman al-Mazid dan Dr. ‘Adil bin ‘Ali asy-Syaddy), dengan sedikit tambahan dan pengurangan.  alsofwah.or.id

Advertisements

Catatan Manis Untuk Para Pengantin

Standard

Pada hari ini, Allah subhanahu wata’ala satukan dua insan yang berbeda… Pada hari ini, Dia padukan dua hati … pada hari ini Dia dekatkan dua insan yang dulu berjauhan… Dan pada hari ini pula, Allah subhanahu wata’ala halalkan hubungan seorang muslimah dengan seorang muslim dengan jalan dan cara yang syar’i sesuai al-Qur’an dan Sunnah.

“Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kedua mempelai di kala suka maupun duka.  Serta menyatukan mereka berdua dalam kebaikan.”

Sungguh di antara hal-hal yang menggembirakan saat ini, kita lihat para pemuda muslim berhasrat kuat untuk menikah, meskipun banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dan begitu besar biaya yang mereka tanggung. Hal itu tidak lain semata-mata karena keinginan mereka untuk mencari jalan yang halal, dan benar-benar untuk menjaga kesucian diri mereka, serta demi mewujudkan cita-cita membangun keluarga muslim yang akan menjadi salah satu bagian terpenting dalam membangun masyarakat, bahkan umat Islam seluruhnya.

1. Pernikahan Merupakan Petunjuk Para Nabi Dan Rasul ‘alaihimussalam.
Barangsiapa yang membencinya, sungguh dia telah menyelisihi sunnah dan menentang petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Demi Allah!! Sungguh aku Adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala di antara kalian. Tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur , aku pun menikahi wanita-wanita. Barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka ia bukan termasuk umatku.” (Muttafaq ‘alaih).

2. Pernikahan Sebagai Realisasi Dari Memenuhi Panggilan Allah subhanahu wata’ala.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32)

3. Pernikahan Adalah Panggilan Fitrah.
Barangsiapa yang meninggalkannya dan mencari selain dari itu, sungguh ia telah menyelisihi fitrah tersebut. Dan barangsiapa yang menyelisihinya, niscaya ia berada di jurang kehancuran. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)

4. Pernikahan Merupakan Salah Satu Nikmat Allah Yang Paling Agung Bagi Hamba-hamba-Nya, Jalan Menggapai Kasih Sayang, Langkah Menuju Bahagia, Tanda Kemapanan, Dan Sarana Untuk Meraih Anugrah.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

5. Pernikahan Adalah Jalan Syar’i Untuk Menyalurkan Kebutuhan Biologis Dan Syahwat Secara Halal. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-Mu’minun: 5-7)

6. Pernikahan Sebagai Perisai Para Pemuda Dan Pemudi Dari Fitnah Dan Penyimpangan, Kefasikan Dan Kemak siatan.
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kepada para pemuda untuk segera menikah. Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , “Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian ada yang mampu menikah, maka hendaklah ia menikah. Sungguh ia (pernikahan) dapat lebih menahan pandangan dan dapat lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa. Sungguh ia adalah peredam baginya.” (Muttafaq ‘alaih).

7. Pernikahan Jalan Mudah Untuk Meraih Pahala Dari Allah subhanahu wata’ala.
Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabar kan kepada kita bahwa sebaik-baik infak adalah infak yang diberikan kepada istri dan keluarga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Satu dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dan satu dinar yang kamu infakkan untuk membebaskan budak, dan satu dinar yang kamu sedekahkan untuk orang miskin, dan satu dinar yang kamu infakkan untuk istrimu, maka yang paling utama adalah satu dinar yang kamu infakkan untuk istrimu.” (HR. Muslim).
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pula kepada Sa’ad bin Abi Waqas radhiyallahu ‘anhu, “Sungguh tidaklah kamu menginfakkan suatu infak semata untuk mencari wajah Allah, melainkan kamu mendapatkan pahala padanya. Bahkan apa yang kamu letakkan pada mulut istrimu.” (Muttafaq ‘alaih).
Dan yang lebih agung dari itu semua adalah pahala yang diberikan kepada suami dan istri tatkala melakukan hubungan intim (bersetubuh). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan dalam persetubuhan kalian terdapat sedekah” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah! Salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya (kepada istrinya). Apakah ia mendapatkan pahala padanya?! Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bagaimana menurutmu, seandai nya seseorang menyalurkan syahwatnya pada suatu yang haram, apakah ia berdosa? Maka demikian sebaliknya jika ia menyalur kannya pada suatu yang halal, ia mendapat kan pahala.” (HR. Muslim)

8. Pernikahan Yang Sukses Adalah Yang Dibangun Di Atas Dasar-dasar Syar’i Yang Benar.
Di antara dasar-dasar tersebut yang paling agung adalah keshalihan pasangan suami istri.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika datang kepadamu seorang lelaki yang kamu sukai (ridhai) agama dan akhlaknya, nikahkanlah ia (dengan putrimu), jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi ini.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani).
Seseorang bertanya kepada Al-Hasan rahimahullah, “Kepada siapa selayaknya aku menikahkan putriku?” ia menjawab, “Kepada lelaki yang bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Sesungguhnya jika ia mencintai putrimu, ia tentu akan memuliakannya. Dan jika ia membencinya, niscaya ia tidak akan berbuat aniaya terhadapnya.”
Suami yang memiliki agama sudah barang tentu tidak akan berbuat zhalim terhadap istrinya saat ia marah, tidak mendiamkannya tanpa sebab, tidak bersikap buruk ketika mempergaulinya, dan juga tidak menjadi fitnah bagi istri/keluarganya dengan membawa sesuatu yang mungkar, atau alat-alat yang melalaikan (musik, orkes, film, dsb) ke dalam rumah. Akan tetapi ia akan berbuat dan bersikap seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam , “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik kalian terhadap keluargaku”. (HR. Ibnu Majah)
Maka sudah sepatutnya para wali perempuan untuk selalu melihat dan mengutamakan agama dan akhlak seorang lelaki yang akan menjadi suami bagi putrinya. Karena sesungguhnya seorang perempuan akan menjadi tawanan dengan pernikahannya tersebut. Sedangkan seorang wali yang menikahkan putrinya dengan lelaki fasik dan gemar berbuat maksiat/bid’ah, sungguh ia telah berbuat aniaya terhadap putrinya dan dirinya sendiri.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wanita dinikahi karena empat hal, yakni: Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka raihlah keberuntungan dengan memilih wanita karena agamanya, jika tidak, maka merugilah” (HR. Muslim).
Seorang istri yang memiliki agama, ia senantiasa patuh kepada suaminya dalam segala hal, selain maksiat kepada Allah, menjaga dirinya dan harta suaminya, tatkala sang suami tak ada di sisinya. Ia tidak meninggalkan maupun mengabaikan hubungan suami-istri, tidak keluar rumah tanpa sepengetahuan suaminya, juga tidak berpuasa sunnah sedangkan suami sedang bersamanya, kecuali dengan izinnya. Dan ia tidak mengizinkan siapa pun yang tidak disukai suaminya masuk ke dalam rumahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah seorang istri berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya bersamanya, kecuali dengan idzinnya.” (Muttafaq ‘alaih).

9. Pernikahan Merupakan Kekuatan Umat, Membentuk Generasi-generasi Pemuda Baru Dan Dapat Menggentar kan Musuh-musuh Islam.
Pernikahan merupakan satu wasilah (sarana) untuk meningkatkan kuantitas (jumlah) umat dan memakmurkan bumi Allah subhanahu wata’ala. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjur kan untuk menikahi wanita-wanita yang memiliki banyak keturunan/subur (al-walud). Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, “Nikahilah wanita yang penyayang lagi memiliki banyak keturunan (subur), maka sesungguhnya aku akan berbangga-bangga dengan kalian di depan umat lainnya pada hari Kiamat.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i dan Ahmad).

10. Pernikahan Sebagai Sarana Perkenalan dan Pertemuan Di Antara Beberapa Keluarga.
Sehingga terjalinlah kasih sayang dan persaudaraan di antara kaum muslimin. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat: 13)
Sejarah telah membuktikan, bahwa banyak suku dan bangsa yang dahulu tidak pernah akur, saling berseteru satu dengan yang lainnya, bahkan seakan menjadi permusuhan yang abadi dan peperangan yang tak ada akhirnya, maka tatkala terjadi pernikahan silang di antara suku-suku dan bangsa-bangsa yang berseteru tersebut, hilanglah permusuhan dan padamlah api kemarahan, berganti kasih sayang dan persaudaraan serta rahmat dan saling tolong-menolong di antara mereka. Wallahu a’lam.

Dialihbahasakan dari buletin “Baaqotu wardin wa Nisrin, Muhdatun Likulli ‘Arusain”, Min al-Qism al’Ilmy Bi Daril-Wathan. (Oleh: Muhammad Ruliyandi Abu Nabiel)

Sumber  alsofwah.or.id

Rizki : Hak Allah Semata

Standard

Berkaitan dengan permasalahan rizki yang telah Allah Ta’ala tentukan dan anugerahkan kepada setiap hamba-Nya, maka ada beberapa hal yang harus menjadi keyakinan seorang muslim, diantaranya:

  • Menyakini bahwa di antara sifat fi’liyah yang dimiliki Allah Subhaanahu wa ta’ala dan menunjukkan kesempurnaan rububiyah-Nya adalah Allah Ta’ala sebagai Dzat satu-satunya Pemberi Rizki kepada semua makhluk-Nya. Dia sendiri yang menentukannya sesuai dengan kadar masing-masing sejak 50 ribu tahun sebelum bumi diciptakan, kemudian ketentuan ini juga ditulis oleh malaikat bagi manusia sejak mereka berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, dan hal ini termasuk bagian dari konsekwensi iman terhadap qadha dan qadar Allah Ta’ala bagi setiap muslim.

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. 11:6)

“Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal dunia sampai ia meraih seluruh bagian rizkinya, maka bertakwalah kepada Allah dan lakukan cara yang baik dalam mencari rizki”. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani). Dengan demikian tak ada seorangpun yang dapat merubah ketentuan Allah subhanahu wata’ala.

  • Meyakini bahwa Allah Ta’ala telah membagi dan memberikan keutamaan kepada sebagian orang atas sebagian lainnya berkaitan dengan rizki yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan keturunan, warna kulit, kedudukan, kehormatan, kepandaian, bahkan keta’atan dan kemaksiatan seseorang. Namun Allah Ta’ala memberikan nikmat-Nya kepada seluruh makhluk-Nya untuk suatu hikmah dan tujuan yang hanya Dia ketahui dan kehendaki semata. Sehingga ada sebagian di antara manusia mendapatkan harta yang cukup atau bahkan melimpah ruah dan sebagian lain justru sebaliknya, serba kekurangan dan menghadapi kesulitan hidup.

“Dan Allah telah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah”. (QS. 16:71)

Namun yang terjadi, betapa banyak orang yang telah Allah Ta’ala karuniakan rizki melimpah, kedudukan tinggi, keluarga terpandang di masyarakat tidak mendapatkan dan merasakan sedikitpun dari kebahagian hidup di dunia dan di akhirat, karena jauhnya mereka dari tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Sebaliknya betapa banyak orang yang hidupnya serba kekurangan dan pas-pasan, mereka justru dapat merasakan ketenangan, kebaikan yang banyak, serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Inilah rizki yang hakiki yang tidak pernah akan diraih kecuali oleh orang-orang yang hati-hati mereka dihiasi dan dipenuhi dengan keimanan dan perasaan cukup dengan apa yang Allah subhanahau wata’ala anugerahkan. Ini lah rahasia di balik semuanya.

Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu pernah menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dan beliau mengatakan kepadanya, “Merasa cukuplah dengan rizkimu di dunia, sesungguhnya Allah Ta’ala telah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezki”

Maka manakala Allah Ta’ala menginginkan terhadap hamba-Nya satu kebaikan dan kebahagiaan, Dia akan memberikan keberkahan pada setiap keadaan dan urusannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu.Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 35:2)

  • Meyakini bahwa rizki yang Allah Ta’ala anugerahkan adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Syaikhul Islam Taqiyuddin pernah menuturkan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluk-Nya hanyalah untuk beribadah kepada-Nya, dan Dia menciptakan rikzi untuk mereka hanyalah untuk memudahkan mereka beribadah kepada-Nya.”

Tapi terkadang kemudahan rizki yang Allah subhanahu wata’ala berikan juga merupakan ujian dan cobaan, bahkan fitnah dan musibah bagi sebagian orang. Dan yang perlu diketahui oleh kita bahwa Allah Ta’ala memberikan rizki kepada hamba-Nya, tidaklah pasti menunjukkan kecintaan dan rida-Nya kepadanya. Allah Ta’ala telah menegaskan dalam firman-Nya, artinya, “Dan kepada orang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. al-Baqarah: 126).

“Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata”. (QS. Maryam: 74)

 sumber : alsofwah.or.id

Meraih Surga dengan Birrul Walidain

Standard

Allah subhanahu wata’ala berfirman, Artinya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Ali Imron: 133)Dan dalam ayat lain berfirman, artinya, “Dan untuk yang demikin itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. al-Muthaffifin: 26)

Dan dalam ayat lain Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat, Artinya, “Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.” (QS. ash-Shaffat: 61)

Dalam ketiga ayat ini Allah subhanahu wata’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berlomba-lomba dan bersegera dalam mendapatkan Jannah (surga) Nya, Ada beberapa jalan untuk meraih Jannah, dan di antara jalan-jalan itu adalah Birrul Walidain (ta’at kepada orang tua). Cukup banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan tentang itu. Bahkan dalam beberapa ayat, Allah subhanahu wata’ala merangkaikan ketaatan kepada orang tua dengan beribadah kepada-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak,…” (QS. an-Nisa: 36)

Dan juga Dia subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. al-Isra: 23) Diulang-ulangnya ayat yang menerangkan berbuat baik kepada orang tua, dan dirangkaikannya ketaatan kepada keduanya dengan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala menunjukkan tentang keutamaan ‘Birrul Walidain’ (berbakti kepada orang tua).

Hal ini juga didukung dengan beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan tentang keutamaan ‘Birrul Walidain’, di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya, “Ya Rasulullah! Siapakah manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik? “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ibumu” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bapakmu”. (HR. Bukhori kitab al-Adab & Muslim kitab al-Birr wa ash-Shilah)

Dan dalam hadits lain disebutkan, artinya, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta ijin kepadanya untuk ikut berjihad. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Dia menjawab, “Ya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, “Berjihadlah (dengan berbakti) pada keduanya.” (HR Bukhori kitab al-Adab & Muslim kitab al-Birr wa ash-Shilah)

Keutamaan ‘Birrul Walidain’ yang lain adalah bahwa hal itu merupakan sifat para Nabi’alaihimussalam. Allah subhanahu wata’ala mengisahkan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam firman-Nya, artinya, “Ibrahim berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam: 47). Juga pujian Allah subhanahu wata’ala kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, artinya, “Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku sebagai seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32 ) Itulah sirah dan sikap para Nabi ‘alaihimussalam kepada orang tua mereka, dan jalan mereka itulah jalan yang lurus/ shirathal mustaqim, yang selalu kita minta dalam setiap shalat kita. Dan inilah salah satu jalan untuk meraih surga. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa berbuat baik kepada keduanya bukan berarti kita harus melaksanakan semua perintah mereka.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya dengan baik, dan ikutlah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman:15)

Sa’ad bin Waqqoshradhiyallahu ‘anhu berkata, “Diturunkan ayat ini (QS. Luqman: 15) berkaitan dengan masalahku. Dia berkata, “Aku adalah seorang yang berbakti kepada ibuku, maka tatkala aku masuk Islam, dia berkata, “Wahai Sa’ad apa yang aku lihat dengan apa yang baru darimu?” “Tinggalkan agama barumu itu kalau tidak, aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati sehingga kamu dicela dengan sebab kematianku dan kau akan dipanggil dengan wahai pembunuh ibunya”. Maka aku katakan kepadanya, “Jangan kau lakukan wahai ibuku, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan agamaku ini untuk siapa saja”. Maka dia (ibu Sa’ad) diam, tidak makan selama sehari semalam, maka dia kelihatan sudah payah. Kemudian dia tidak makan sehari semalam lagi, maka kelihatan semakin payah. Maka tatkala aku melihatnya aku berkata kepadanya, “Hendaklah kau tahu wahai ibuku, seandainya kau memiliki seratus nyawa, dan nyawa itu melayang satu demi satu, maka tidak akan aku tigggalkan agama ini karena apapun juga, maka kalau kau mau makan makanlah , kalau tidak maka jangan makan”. Lantas diapun makan.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Allah subhanahu wata’ala menyediakan balasan/ pahala yang besar bagi siapa yang taat pada orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya, “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR Tirmidzi kitab al-Birr wa ash-Shilah, dishahihkan oleh al-Albany).

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah perbuatan yang paling utama?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Iman kepada Allah dan RasulNya”. “Kemudian apalagi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Berbuat baik kepada Orang tua.” Kemudian apalagi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Berjuang di jalan Allah.” (HR. Bukhari kitab al-Hajj dan Muslim bab Bayan kaunil iman billah min afdhailil a’mal)

Dan pahala yang besar ini tidak mudah diperoleh kecuali dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada orang tua kita. Ada beberapa kewajiban kita terhadap orang tua, di antaranya:

Yang pertama: Berbuat baik kepada keduanya baik dengan perkataan atau perbuatan. Allah subhanahu wata’ala berfirman, Artinya, “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah”, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS: al-Qur’an-Isro: 23)

Yang kedua: Rendah hati terhadap keduanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, Artinya, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan”. (QS: al-Isro: 24)

Yang ketiga: Mendoakan keduanya baik semasa hidupnya ataupun sesudah meninggalnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, Artinya, “Dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS: al-Isro: 24) Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila anak Adam mati maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak soleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim kitab al-Washiyyah)

Yang Keempat: Mentaati keduanya dalam kebaikan. Allah subhanahu wata’ala berfirman, Artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu , maka janganlah kamu mengikuti keduanya , dan pergaulilah keduanya dengan baik”. (QS: Luqman: 15)

Yang Kelima: Memintakan ampun bagi keduanya sesudah meninggal, yaitu apabila meninggal dalam keadaan Islam. Allah subhanahu wata’ala berfirman menceritakan tentang nabi Ibrahim ‘alaihissalam Artinya, “Ya Tuhan kami beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab/ kiamat”. (QS Ibrohim: 41) Juga firman-Nya tentang Nabi Nuh ‘alaihissalam, Artinya, “Ya Tuhanku ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang beriman laki-laki dan perempuan.” (QS: Nuh: 28)

Yang Keenam: Melunasi hutangnya dan melaksanakan wasiatnya, selama tidak bertentangan dengan syari’at. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan ucapan seorang wanita yang berpendapat hutang ibunya wajib dilunasi, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menambahkan bahwa hutang kepada Allah subhanahu wata’ala berupa shaum nadzar lebih berhak untuk dilunasi.

Yang Ketujuh: Menyambung tali kekerabatan mereka berdua, seperti: Paman dan bibi dari kedua belah pihak, kakek dan nenek dari kedua belah pihak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik hubungan/ silaturahim adalah hubungan/ silaturohim seorang anak dengan teman dekat bapaknya.” (HR. Muslim kitab al-Qur’an-birr wash shilah).

Yang Kedelapan: Memuliakan teman-teman mereka berdua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memuliakan teman-teman istrinya tercinta Khadijah radhiyallahu ‘anha, maka kita muliakan pula teman-teman istri kita. Dan teman-teman orang tua kita lebih berhak kita muliakan, karena di dalamnya ada penghormatan kepada orang tua kita. Semoga Allah subhanahu wata’ala tidak menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mendapati masa tua orang tuanya, namun kita tidak bisa berbuat baik kepadanya, karena berbakti kepada keduanya adalah salah satu jalan untuk meraih surga.

(disarikan dari beberapa referensi, oleh: Ust. Ahmad Fadhilah Mubarak, sumber : alsofwah or id)

PENUNTUT ILMU TIDAK BOLEH FUTUR

Standard

Seorang penuntut ilmu tidak boleh futur dalam usahanya untuk memperoleh dan mengamalkan ilmu. Futur yaitu rasa malas, enggan, dan lamban dimana sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh, dan penuh semangat.

Futur adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para dai, dan penuntut ilmu. Sehingga seseorang menjadi lemah dan malas, bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan aktivitas kebaikan.

Orang yang terkena penyakit futur ini berada pada tiga golongan, yaitu:

  1. Golongan yang berhenti sama sekali dari aktivitasnya dengan sebab futur, dan golongan ini banyak sekali.
  2. Golongan yang terus dalam kemalasan dan patah semangat, namun tidak sampai berhenti sama sekali dari aktivitasnya, dan golongan ini lebih banyak lagi.
  3. Golongan yang kembali pada keadaan semula, dan golongan ini sangat sedikit. [1]

Futur memiliki banyak dan bermacam-macam sebab. Apabila seorang muslim selamat dari sebagiannya, maka sedikit sekali kemungkinan selamat dari yang lainnya. Sebab-sebab ini sebagiannya ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus.

Di antara sebab-sebab itu adalah.

  • Hilangnya keikhlasan.
  • Lemahnya ilmu syari.
  • Ketergantungan hati kepada dunia dan melupakan akhirat.
  • Fitnah (cobaan) berupa isteri dan anak.
  • Hidup di tengah masyarakat yang rusak.
  • Berteman dengan orang-orang yang memiliki keinginan yang lemah dan cita-cita duniawi.
  • Melakukan dosa dan maksiyat serta memakan yang haram.
  • Tidak mempunyai tujuan yang jelas (baik dalam menuntut ilmu maupun berdakwah).
  • Lemahnya iman.
  • Menyendiri (tidak mau berjamaah).
  • Lemahnya pendidikan. [2]

Futur adalah penyakit yang sangat ganas, namun tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Dia pun menurunkan obatnya. Akan mengetahuinya orang-orang yang mau mengetahuinya, dan tidak akan mengetahuinya orang-orang yang enggan mengetahuinya.

Di antara obat penyakit futur adalah.

  • Memperbaharui keimanan.
    Yaitu dengan mentauhidkan Allah dan memohon kepada-Nya agar ditambah keimanan, serta memperbanyak ibadah, menjaga shalat wajib yang lima waktu dengan berjamaah, mengerjakan shalat-shalat sunnah rawatib, melakukan shalat Tahajjud dan Witir. Begitu juga dengan bersedekah, silaturahmi, birrul walidain, dan selainnya dari amal-amal ketaatan.
  • Merasa selalu diawasi Allah Taala dan banyak berdzikir kepada-Nya.
  • Ikhlas dan takwa.
  • Mensucikan hati (dari kotoran syirik, bidah dan maksiyat).
  • Menuntut ilmu, tekun menghadiri pelajaran, majelis taklim, muhadharah ilmiyyah, dan daurah-daurah syariyyah.
  • Mengatur waktu dan mengintrospeksi diri.
  • Mencari teman yang baik (shalih).
  • Memperbanyak mengingat kematian dan takut terhadap suul khatimah (akhir kehidupan yang jelek).
  • Sabar dan belajar untuk sabar.
  • Berdoa dan memohon pertologan Allah. [3]

Foote Notes
[1]. Lihat al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal Ilaaj (hal. 22).
[2]. Lihat al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal Ilaaj (hal. 43-71).
[3]. Ibid (hal. 88-119) dengan diringkas.

Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, sumber : www.almanhaj.or.id

Allah akan Ganti yang Lebih Baik

Standard

Berkata seorang guru dari guru-guru kami al-Allamah (seorang yang sangat alim) al-Muarrikh (Ahli sejarah) Syaikh Muhammad Raghib Atthabbah (semoga Allah merahmati beliau) dalam kitabnya “I’lam Nubala bi Tarikh Halb asy-Syahbaai” 7/231:

Bahwasanya Syaikh Ibrahim al-Hilali al-Halabi (seorang ahli ilmu yang shalih dan mulia) pergi ke Universitas al-Azhar untuk menuntut ilmu. Dan suatu ketika disaat menuntut ilmu itu, ia kehabisan perbekalan, dan sudah lebih dari satu hari ia tidak makan. Maka ia merasa sangat lapar…

Lalu keluarlah ia dari kamar asramanya di universitas Al Azhar untuk mencari sesuap makanan ; (disaat itu) ia melihat pintu (sebuah rumah) terbuka! Dan ia mencium darinya aroma masakan yang lezat!! Maka ia pun memasuki pintu itu dan segera menuju dapur, dan (sungguh mengejutkan) ia tidak menjumpai seseorangpun! Dan ia dapati dalam dapur itu makanan yang lezat, segera ia mengambil sendok dan memasukkannya dalam makanan itu !! kemudian tatkala ia mengangkat sendok itu kemulutnya jiwanya mencegah dirinya untuk memakannya!! Dimana (jiwanya mengingatkan) tidak halal baginya untuk memakan makanan itu! Lalu ia pun meninggalkan makanan itu (tidak jadi memakannya), dan keluar dengan rasa lapar yang melilitnya untuk kembali kekamarnya di serambi Universitas al-Azhar.

Tidaklah berlalu satu jam sesudah itu datang salah seorang gurunya dan seorang lelaki memasuki kamarnya. Dan gurunya itu berkata kepadanya : “Ini adalah seorang lelaki terhormat, yang datang kepadaku meminta agar aku mencari seorang alim yang shalih yang aku pilih untuk dinikahkan dengan anak perempuannya; dan aku memilihmu (untuk nikah dengan putrinya). Maka ayolah engkau bangun untuk pergi bersama kami kerumahnya untuk melangsungkan akad diantara kalian berdua, hingga engkau menjadi bagian dari anggota keluarganya.

Maka Syaikh Ibrahim menuruti perintah gurunya, dan pergi bersama mereka berdua. Dan (tidak disangka) keduanya menuju rumah yang telah ia masuki tadi, dimana ia telah memasukkan sendok kemakanannya!!

Dan tatkala ia telah duduk, ayah mempelai puteri menikahkannya dengan puterinya, dan (setelah selesai) ia bersegera menuju makanan, dan makanan itu adalah makanan yang (hendak ia makan disaat lapar) yang telah dia masukkan sendok kedalamnya, lalu ia tinggalkannya. Maka ia pun memakannya sambil berkata dalam dirinya : “Aku tadi terhalang memakan makanan ini karena tidak ada izin (dari pemiliknya) maka Allah memberi aku ganti makanan ini dengan mendapatkan izin (pemiliknya) dalam keadaan dimuliakan, dihormati dan suami (dari puteri pemilik makanan ini).

….dan sesudah itu ia pergi bersama perempuan shalihah (istrinya) itu ke negeri al-Halabi, dan perempuan itu adalah ibu dari anak-anaknya yang shalih.
…Inilah buah dari kesabaran, dan inilah hasil dari ketaqwaan :

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” Ath Thalaaq : 2

Adapun mereka yang tergesa-gesa, yang tidak membedakan antara yang benar dengan yang batil, untuk mencari sedikit kenikmatan duniawi yang akan hilang ini, tidaklah mereka mendapatkan kecuali menelan air liur dikerongkongan, dan kekecewaan dalam hati, karena mereka tidak mendapatkan dunia, dan mereka tidak menghasilkan dunia…
Karena mereka telah lupa (dan pura-pura lupa) firman Allah :

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya” (az-Zumar : 36)

Adapun orang-orang yang bersabar, yang kokoh dan bertaqwa kelak akan memperoleh ketinggian didunia, dan kemuliaan disisi Rab mereka pada hari kiamat.
Allah ta’ala berfirman : “Maka berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (al-Baqarah : 155) 

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa hisab”. (az-Zumar :10)

“Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar” (an-Nahl : 126)

“……kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shlalih dan saling-nasehat menasehati menetapi kebenaran dan saling nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran”. (al-Ashr : 3)

….dengan jiwa yang tenang, hati yang merendah, keimanan yang mantap, dan keyakinan yang kokoh, serta ketaqwaan yang benar : “Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam segala urusannya” (Ath Thalaaq : 4)

“Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipargandakan pahala baginya”. (Ath Thalaaq : 5)

Maraji’:
Majalah Al Ashalah edisi 31 hal 60-61, Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi Al Atsari, Terjemahan : MAHAD ALI AL-IRSYAD, Surabaya

Penghalang-Penghalang Do’a

Standard

Banyak orang yang berdoa melakukan perbuatan yang menyebabkan doa mereka ditolak dan tidak dikabulkan, karena kebodohan mereka tentang syarat-syarat doa, padahal apabila tidak terpenuhi salah satu syarat tersebut, maka doa tersebut tidak dikabulkan.

Adapun syarat-syarat yang terpenting antara lain.

[1]. Ikhlas
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya”. [Ghafir : 14]
Ibnu Katsir mengatakan bahwa setiap orang yang beribadah dan berdoa hendaknya dengan ikhlas serta menyelisihi orang-orang musyrik dalam cara dan madzhab mereka.[Tafsir Ibnu Katsir 4/73]

Dari Abdurrahman bin Yazid bahwa dia berkata bahwasanya Ar-Rabii’ datang kepada ‘Alqamah pada hari Jum’at dan jika saya tidak ada dia memberikan kabar kepada saya, lalu ‘Alqamah bertemu dengan saya dan berkata : Bagaimana pendapatmu tentang apa yang dibawa oleh Rabii’.? Dia menjawab : “Berapa banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan ? Karena Allah tidak menerima doa kecuali yang ikhlas”. Saya berkata : Bukankah itu telah dikatakannya ? Dia berkata : Abdullah mengatakan bahwa
Allah tidak mendengar doa seseorang yang berdoa karena sum’ah, riya’ dan main-main tetapi Allah menerima orang yang berdoa dengan ikhlas dari lubuk hatinya”. [Imam Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad 2/65 No. 606. Dishahihkan sanadnya oleh Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad No. 473. Nakhilah maksudnya adalah iikhlas, Masma’ adalah orang yang beramal untuk dipuji atau tenar].

Termasuk syarat terkabulnya doa adalah tidak beribadah dan tidak berdoa kecuali kepada Allah. Jika seseorang menujukan sebagian ibadah kepada selain Allah baik kepada para Nabi atau para wali seperti mengajukan permohonan kepada mereka, maka doanya tidak terkabulkan dan nanti di akhirat termasuk orang-orang yang merugi serta kekal di dalam Neraka Jahim bila dia meninggal sebelum bertaubat.

[2] & [3]. Tidak Berdoa Untuk Sesuatu Dosa atau Memutuskan Silaturrahmi
Dari Abu Said bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
Apabila seorang muslim berdoa dan tidak memohon suatu yang berdosa atau pemutusan kerabat kecuali akan diakabulkan oleh Allah salah satu dari tiga ; Akan dikabulkan doanya atau ditunda untuk simpanan di akhirat atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya”.[Musnad Ahmad 3/18. Imam Al-Mundziri mengatakannya Jayyid (bagus) Targhib 2/478].
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud “tidak berdoa untuk suatu yang berdosa” artinya berdoa untuk kemaksiatan suatu contoh : “Ya Allah takdirkan aku untuk bisa membunuh si fulan”, sementara si fulan itu tidak berhak dibunuh atau “Ya Allah berilah aku rizki untuk bisa minum khamer” atau “Ya Allah pertemukanlah aku dengan seorang wanita untuk berzina”. Atau berdoa untuk memutuskan silaturrahmi suatu contoh : “Ya Allah jauhkanlah aku dari bapak dan ibuku serta saudaraku” atau doa semisalnya. Doa tersebut pengkhususan terhadap yang umum. Imam Al-Jazri berkata bahwa memutuskan silaturahmi bisa berupa tidak saling menyapa, saling menghalangi dan tidak berbuat baik dengan semua kerabat dan keluarga.

[4]. Hendaknya Makanan dan Pakaian dari yang Halal dan Bagus
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan : “Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian
mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan.?”
[Shahih Muslim, kitab Zakat bab Qabulus Sadaqah 3/85-86].
Imam An-Nawawi berkata bahwa yang dimaksud lama bepergian dalam rangka beribadah kepada Allah seperti haji, ziarah, bersilaturrahmi dan yang lainnya.

Pada zaman sekarang ini berapa banyak orang yang mengkonsumsi makanan, minuman dan pakaian yang haram baik dari harta riba, perjudian atau harta suap yang yang lainnya. [Syarh Shahih Muslim 7/100].

Ahli Syair berkata. “Kita berdoa dan menyangka doa terangkat padahal dosa menghadangnya lalu doa tersebut kembali. Bagaimana doa kita bisa sampai sementara dosa kita menghadang di jalannya”. [Al-Azhiyah dalam Ahkamil Ad’iyah hal. 141].

[5]. Tidak Tergesa-gesa Dalam Menunggu Terkabulnya Doa
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. “Akan dikabulkan permintaan seseorang di antara kamu, selagi tidak
tergesa-gesa, yaitu mengatakan : Saya telah berdoa tetapi belum dikabulkan”.
[Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat 7/153. Shahih Muslim, kitab Do’a wa Dzikir
8/87]
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : Yang dimaksud dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Saya berdoa tetapi tidak dikabulkan”, Ibnu Baththaal berkata bahwa seseorang bosan berdoa lalu meninggalkannya, seakan-akan mengungkit-ungkit dalam doanya atau mungkin dia berdoa dengan baik sesuai dengan syaratnya, tetapi bersikap bakhil dalam doanya dan menyangka Alllah tidak mampu mengabulkan doanya, padahal Dia dzat Yang Maha Mengabulkan doa dan tidak pernah habis pemberian-Nya. [Fathul Bari 11/145].

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa Imam Al-Madzhari berkata : Barangsiapa yang bosan dalam berdoa, maka doanya tidak terkabulkan sebab doa adalah ibadah baik dikabulkan atau tidak, seharusnya seseorang tidak boleh bosan beribadah. Tertundanya permohonan boleh jadi belum waktunya doa tersebut dikabulkan karena segala sesuatu telah ditetapkan waktu terjadinya, sehingga segala sesuatu yang belum waktunya tidak akan mungkin terjadi, atau boleh jadi permohonan tersebut tidak terkabulkan dengan tujuan Allah mengganti doa tersebut dengan pahala, atau boleh jadi doa tersebut
tertunda pengabulannya agar orang tersebut rajin berdoa sebab Allah sangat senang terhadap orang yang rajin berdoa karena doa memperlihatkan sikap rendah diri, menyerah dan merasa membutuhkan Allah. Orang sering mengetuk pintu akan segera dibukakan pintu dan begitu pula orang yang sering berdoa akan segera dikabulkan doanya. Maka seharusnya setiap kaum Muslimin tidak boleh meninggalkan berdoa. [Mir’atul Mafatih 7/349].

[6] &[ 7] Hendaknya Berdoa dengan Hati yang Khusyu’ dan Yakin bahwa Doanya Pasti akan Dikabulkan
Dari Abdullah bin Amr bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
Hati itu laksana wadah dan sebahagian wadah ada yang lebih besar dari yang lainnya, maka apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah kepada-Nya sedangkan kamu merasa yakin akan dikabulkan karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai”. [Musnad Ahmad 2/177, Mundziri dalam kitab Targhib 2/478, Al-Haitsami dalam Majma Zawaid 10/148]
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi : ” dan kalian yakin akan dikabulkan”, adalah pengharusan artinya berdoalah sementara kalian bersikap dengan sifat yang menjadi penyebab terkabulnya doa. Imam Al-Madzhari berkata bahwa hendaknya orang yang bedoa merasa yakin bahwa Allah akan mengabulkan doanya sebab sebuah doa tertolak mungkin disebabkan yang diminta tidak mampu mengabulkan atau tidak ada sifat dermawan atau tidak mendengar terhadap doa tersebut, sementara kesemuanya sangat tidak layak menjadi sifat Allah. Allah adalah Dzat Yang Maha Pemurah, Maha Tahu dan Maha Kuasa yang tidak menghalangi doa hamba-Nya. Jika seorang hamba tahu bahwa Allah tidak mungkin menghalangi doa hamba-Nya, maka seharusnya kita berdoa kepada Allah dan merasa yakin bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah.

Seandainya ada orang yang mengatakan bahwa kita dianjurkan agar kita selalu yakin bahwa doa kita akan terkabulkan dan keyakinan itu akan muncul jika doa pasti dikabulkan, sementara kita melihat sebagian orang terkabul doanya dan sebagian yang lainnya tidak terkabulkan, bagaimana kita bisa yakin ?

Jawab.
Orang yang berdoa pasti terkabulkan dan pemintaannya pasti diberikan kecuali bila dalam catatan azali Allah doa tersebut tidak mungkin dikabulkan akan tetapi dia akan dihindarkan oleh Allah dari musibah semisalnya dengan permohonan yang dia minta sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits. Atau diberi ganti yang berupa pahala dan derajat di akhirat. Karena doa adalah ibadah dan barangsiapa yang beribadah dengan baik, maka tidak mungkin akan dihalangi dari pahala.

Yang dimaksud dengan sabda Nabi : “dari hati yang lalai” adalah hati yang berpaling dari Allah atau berpaling dari yang dimintanya. [Mir’atul Mafatih 7/360-361].

Disalin dari buku Jahalatun nas fid du’a, edisi Indonesia Kesalahan Dalam Berdo’a oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, hal 158-167, terbitan Darul Haq, penerjemah Zaenal Abidin, Lc.

Beberapa Amalan yang Utama

Standard

Sadarkah kita, bahwa setiap diri kita memiliki musuh besar ? Musuh yang sangat berkeinginan untuk menyesatkan dan mencelakakan kita. Musuh yang memiliki berbagai tipu daya dan cara untuk mencapai tujuannya. Musuh yang kita tidak dapat melihatnya, sedangkan dia melihat kita. Musuh besar itu adalah setan !

Musuh besar manusia ini, selain tidak dapat dilihat, juga diberi kemampuan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang dia gunakan sebagai sarana untuk menyesatkan manusia. Itu semua merupakan ujian dan cobaan bagi manusia. Maka hamba yang ingin selamat, ia perlu mengetahui berbagai rintangan setan, sehingga selamat dari jerat dan perangkapnya.

Setan berkehendak mengalahkan manusia dengan tujuh rintangan. Sebagian rintangan ini lebih berat dari yang lainnya. Dia tidak akan beralih dari rintangan yang berat kepada yang di bawahnya, kecuali jika dia tidak mampu mengalahkan manusia pada rintangan tersebut. Salah satu rintangan tersebut adalah rintangan amalan-amalan ketaatan yang tidak utama; dimana setan menghalangi manusia dari kesempurnaan dan keutamaan amalan.

Setan menjadikan manusia sibuk dengan amalan-amalan yang tidak utama, sehingga tidak mendapatkan yang utama. Sibuk dengan amalan yang dicintai Allah, sehingga tidak mendapatkan yang lebih dicintai Allah. Sibuk dengan amalan yang sedikit pahalanya, sehingga tidak mendapatkan yang lebih besar pahalanya.

Padahal jika manusia menyadari umurnya yang pendek (hanya berkisar 60 – 70 tahun, sedikit sekali yang melebihi dari itu), sedangkan dia membutuhkan bekal yang cukup untuk perjalanannya yang panjang menuju keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia akan memilih amalan-amalan yang bernilai tinggi di sisi Allah. Di sini akan kami sebutkan beberapa amalan yang memiliki keutamaan yang besar; yang dapat dilakukan oleh setiap orang.

a. Sayyidul / Penghulu Istighfar.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penghulu Istighfar ialah engkau mengatakan “Allaahumma anta Rabbi, laa ilaaha illa anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘alaa ‘ahdika, wawa’dika mastatha’tu, a’udzubika min syarri ma shana’tu, abu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abu-u bidzambii faghfirlii, fainnahu laa yaghfirudzdzunuuba illa anta (artinya: Wahai Allah, Engkau adalah Penguasaku, tidak ada ibadah yang diibadahi kecuali Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hambaMu. Aku berada di atas perjanjianMu dan janjiMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang telah aku kerjakan. Aku mengakui nikmatMu kepadaku, dan aku mengakui dosaku kepadaMu, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni seluruh dosa, kecuali Engkau). Beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkannya pada waktu siang dengan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum sore, maka dia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada waktu malam dengan meyakininya, lalu dia mati sebelum subuh, maka dia termasuk penghuni surga”. (HR Bukhari, Tirmidzi, Ahmad dan lainnya dari Syaddad bin Aus)

Kalau kita mengetahui keutamaan penghulu istighfar ini, maka alangkah ruginya jika kita tidak istiqamah mengamalkannya. Hendaklah kita rutinkan membaca istighfar ini, sebelum dikejutkan kedatangan kematian yang tiba-tiba.

b. Meraih pahala membaca Al Qur’an 30 juz setiap malam

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apakah salah seseorang di antara kamu tidak kuat membaca sepertiga Al Qur’an pada satu malam ? Maka para shahabat bertanya, ‘Siapa di antara kita yang mampu melakukannya, wahai Rasulullah ?’. Beliau menjawab, ‘Allahul Wahidush Shamad (yani surat Al Ikhlas) sepertiga Al Qur’an’ “ (HR Bukhari, Malik, Ahmad, Abu Dawud, An Nasa-i, dari Abu Sa’id Al Khudri)

Alangkah mudahnya meraih pahala membaca Al Qur’an 30 juz, bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Mengapa kita sia-siakan kesempatan emas ini ? Berapa banyak pahala khatam Al Qur’an yang telah kita tinggalkan ? (yakni dengan membaca Al Ikhlas 3x di setiap malam, namun dengan pahala khatam 30 juz)

c. Keutamaan shalat jama’ah di masjid

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat berjama’ah melebihi shalat sendirian sebanyak 27 derajat” (HR Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Umar)

Jika shalat berjama’ah di masjid bagi laki-laki melebihi shalat sendirian sebanyak 27 derajat, mengapa sebagian kita lebih mementingkan dunia yang fana ini, ketika mendengar panggilan untuk melaksanakan shalat dan mendapatkan keberuntungan ?

d. Keutamaan shalat tathawwu’ (sunnah) di rumah

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat tathawwu’ (sunnah) seseorang (di dalam rumahnya) yang tidak dilihat oleh orang lain sebanding 25 derajat shalatnya di hadapan orang lain” (HR Abu Ya’la dari Shuhaib Ar Rumi, dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 3821)

Keutamaan shalat berjama’ah di masjid dan shalat tathawwu’ di rumah ini telah banyak disia-siakan oleh kaum Muslimin. Banyak yang meninggalkan shalat berjama’ah di masjid. Kemudian kebanyakan yang shalat berjama’ah di masjid, melakukan shalat sunnah rawatib di masjid di hadapan orang banyak. Tidakkah mereka sayang dengan hilangnya 25 derajat yang dijanjikan Rasulullah ? Yaitu, jika dia shalat sunnah di rumah dengan tanpa ada yang melihatnya ? Terlebih lagi hal itu lebih menjaga keikhlasan niatnya.

Dan lain-lain amalan utama yang telah dijelaskan oleh Allah dan RasulNya.

Dikutip ringkas dari Tazkiyatun Nufus oleh Muslim Atsari, Majalah As-Sunnah, edisi khusus (7&8) thn. IX/1426H/2005M

Istilah istilah Hadits

Standard
  • Matan : materi hadits yang berakhir dengan sanad.
  • Sanad : para perawi yang menyampaikan kepada matan.
  • Isnad : rentetan sanad hingga sampai ke matan, sebagai contoh ialah “Dari Muhammad Ibnu Ibrahim, dari Alqamah ibnu Waqqash, dari Umar Ibnu Khaththab bahwa Rasullullah saw pernah bersabda: Sesungguhnya semua amal perbuatan itu berdasarkan niat masing masing.” Sabda Nabi saw yang mengatakan: “Sesungguhnya semua amal perbuatan itu berdasarkan niat masing-masing” disebut matan, sedangkan diri para perawi disebut sanad, dan yang mengisahkan sanad disebut isnad.
  • Musnad : hadits yang isnadnya mulai dari permulaan hingga akhir berhubungan, dan kitab yang menghimpun hadits hadits setiap perawi secara tersendiri, seperti kitab Musnad Imam Ahmad.
  • Musnid : orang yang meriwayatkan hadits berikut isnadnya.
  • Al Muhaddits : orang yang ahli dalam bidang hadits dan menekuninya secara riwayat dan dirayah (pengetahuan).
  • Al-Haafizh : orang yang hafal seratus ribu buah hadits baik secara matan maupun isnad.
  • Al-Hujjah : orang yang hafal tiga ratus ribu hadits.
  • Al-Haakim : orang yang menguasai sunnah tetapi tidak memfatwakannya melainkan sedikit.