Beberapa Amalan yang Utama

Standard

Sadarkah kita, bahwa setiap diri kita memiliki musuh besar ? Musuh yang sangat berkeinginan untuk menyesatkan dan mencelakakan kita. Musuh yang memiliki berbagai tipu daya dan cara untuk mencapai tujuannya. Musuh yang kita tidak dapat melihatnya, sedangkan dia melihat kita. Musuh besar itu adalah setan !

Musuh besar manusia ini, selain tidak dapat dilihat, juga diberi kemampuan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang dia gunakan sebagai sarana untuk menyesatkan manusia. Itu semua merupakan ujian dan cobaan bagi manusia. Maka hamba yang ingin selamat, ia perlu mengetahui berbagai rintangan setan, sehingga selamat dari jerat dan perangkapnya.

Setan berkehendak mengalahkan manusia dengan tujuh rintangan. Sebagian rintangan ini lebih berat dari yang lainnya. Dia tidak akan beralih dari rintangan yang berat kepada yang di bawahnya, kecuali jika dia tidak mampu mengalahkan manusia pada rintangan tersebut. Salah satu rintangan tersebut adalah rintangan amalan-amalan ketaatan yang tidak utama; dimana setan menghalangi manusia dari kesempurnaan dan keutamaan amalan.

Setan menjadikan manusia sibuk dengan amalan-amalan yang tidak utama, sehingga tidak mendapatkan yang utama.
Sibuk dengan amalan yang dicintai Allah, sehingga tidak mendapatkan yang lebih dicintai Allah.

Sibuk dengan amalan yang sedikit pahalanya, sehingga tidak mendapatkan yang lebih besar pahalanya.

Padahal jika manusia menyadari umurnya yang pendek (hanya berkisar 60 – 70 tahun, sedikit sekali yang melebihi dari itu), sedangkan dia membutuhkan bekal yang cukup untuk perjalanannya yang panjang menuju keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia akan memilih amalan-amalan yang bernilai tinggi di sisi Allah. Di sini akan kami sebutkan beberapa amalan yang memiliki keutamaan yang besar; yang dapat dilakukan oleh setiap orang.

a. Sayyidul / Penghulu Istighfar

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penghulu Istighfar ialah engkau mengatakan “Allaahumma anta Rabbi, laa ilaaha illa anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘alaa ‘ahdika, wawa’dika mastatha’tu, a’udzubika min syarri ma shana’tu, abu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abu-u bidzambii faghfirlii, fainnahu laa yaghfirudzdzunuuba illa anta” (artinya: Wahai Allah, Engkau adalah Penguasaku, tidak ada ibadah yang diibadahi kecuali Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hambaMu. Aku berada di atas perjanjianMu dan janjiMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang telah aku kerjakan. Aku mengakui nikmatMu kepadaku, dan aku mengakui dosaku kepadaMu, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni seluruh dosa, kecuali Engkau). Beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkannya pada waktu siang dengan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum sore, maka dia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada waktu malam dengan meyakininya, lalu dia mati sebelum subuh, maka dia termasuk penghuni surga”. (HR Bukhari, Tirmidzi, Ahmad dan lainnya dari Syaddad bin Aus)

Kalau kita mengetahui keutamaan penghulu istighfar ini, maka alangkah ruginya jika kita tidak istiqamah mengamalkannya. Hendaklah kita rutinkan membaca istighfar ini, sebelum dikejutkan kedatangan kematian yang tiba-tiba.

b. Meraih pahala membaca Al Qur’an 30 juz setiap malam

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apakah salah seseorang di antara kamu tidak kuat membaca sepertiga Al Qur’an pada satu malam ? Maka para shahabat bertanya, ‘Siapa di antara kita yang mampu melakukannya, wahai Rasulullah ?’. Beliau menjawab, ‘Allahul Wahidush Shamad (yani surat Al Ikhlas) sepertiga Al Qur’an’ ” (HR Bukhari, Malik, Ahmad, Abu Dawud, An Nasa-i, dari Abu Sa’id Al Khudri)

Alangkah mudahnya meraih pahala membaca Al Qur’an 30 juz, bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Mengapa kita sia-siakan kesempatan emas ini ? Berapa banyak pahala khatam Al Qur’an yang telah kita tinggalkan ? (yakni dengan membaca Al Ikhlas 3x di setiap malam, namun dengan pahala khatam 30 juz)

c. Keutamaan shalat jama’ah di masjid

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat berjama’ah melebihi shalat sendirian sebanyak 27 derajat” (HR Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Umar)

Jika shalat berjama’ah di masjid bagi laki-laki melebihi shalat sendirian sebanyak 27 derajat, mengapa sebagian kita lebih mementingkan dunia yang fana ini, ketika mendengar panggilan untuk melaksanakan shalat dan mendapatkan keberuntungan ?

d. Keutamaan shalat tathawwu’ (sunnah) di rumah

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat tathawwu’ (sunnah) seseorang (di dalam rumahnya) yang tidak dilihat oleh orang lain sebanding 25 derajat shalatnya di hadapan orang lain” (HR Abu Ya’la dari Shuhaib Ar Rumi, dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 3821)

Keutamaan shalat berjama’ah di masjid dan shalat tathawwu’ di rumah ini telah banyak disia-siakan oleh kaum Muslimin. Banyak yang meninggalkan shalat berjama’ah di masjid. Kemudian kebanyakan yang shalat berjama’ah di masjid, melakukan shalat sunnah rawatib di masjid di hadapan orang banyak. Tidakkah mereka sayang dengan hilangnya 25 derajat yang dijanjikan Rasulullah ? Yaitu, jika dia shalat sunnah di rumah dengan tanpa ada yang melihatnya ? Terlebih lagi hal itu lebih menjaga keikhlasan niatnya.

Dan lain-lain amalan utama yang telah dijelaskan oleh Allah dan RasulNya.

Dikutip ringkas dari Tazkiyatun Nufus oleh Muslim Atsari Majalah As-Sunnah, edisi khusus (7&8) thn. IX/1426H/2005M

Comments are closed.