Sudahkah Engkau Mengenal Tuhan-mu?

Standard

Oleh Al-Ustadz Armen Halim Naro, Lc. Rahimahullahu Ta’ala*)

Manusia dalam perjalanannya sebagai hamba Allah harus memiliki dua kekuatan, yaitu kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Seperti orang yang sedang berjalan dengan kendaraannya pada kegelapan malam, maka ilmu sebagai lentera dan rambu yang akan menerangi jalan menuju tujuannya. Semakin dalam ilmunya, semakin terang pula jalan yang akan ia lalui. Sebaliknya, semakin jauh ia dari ilmu semakin gelap juga jalan kebenaran baginya. Sedangkan amal adalah motor yang mengerakkannya ke depan.

Semulia-mulia ilmu adalah ilmu mengenal Allah yaitu ilmu tentang tauhid kepada Allah, karena mulia atau tidaknya suatu ilmu sesuai dengan sesuatu yang hendak diketahui. Jika hal yang berkaitan dengan mencuri maka kehinaan ilmu itu sesuai pula dengan pekerjaan itu, begitu juga dengan ilmu dunia maka kemuliaannya sesuai pula dengan kedudukan dunia itu sendiri.

Dalam ilmu dien (agama), kemuliaan fiqih karena dengannya diketahui hukum-hukum syari’at, kemudian ilmu hadits disebabkan dengannya diketahui segala perilaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan ilmu tauhid dengannya kita dapat mengenal Allah. Adakah yang lebih besar dari mengenal Allah?! Adakah yang lebih besar persaksian dan bukti melainkan bukti dna persaksian tentang Allah?! Allah berfirman yang artinya:

“Katakannlah: ‘Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?’ Katakanlah: ‘Allah’…” (QS. Al-An’am: 19)

Adapun mengenal Allah ialah dalam tiga hal, yaitu: mengenal Allah delam rububiyyah-Nya, mengenal Allah dalam uluhiyyah-Nya, dan mengenal Allah dalam nama dan sifat-Nya. Dan itulah tiga tauhid yang wajib diketahui oleh setiap muslim.

Tauhid Rububiyyah

Tauhid rububiyyah ialah mentauhidkan dan mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya. Maka tidak ada pencipta, pemberi rezeki, pemberi manfaat dan mudharat, pengasih dan penyayang, kecuali Allah. Dialah satu-satunya Pencipta alam, Pengatur alam semesta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Maha Kuasa atas segala sesuatu yang menggantikan siang dan malam. Semua merupakan perbuatan Allah.

“Katakannlah: ‘Wahai Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dna Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau mesukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)’.” (QS. Ali Imran: 26-27)

Ketika seorang hamba meyakini ada yang mencipta atau memberi rezeki selain dari Allah, berarti ia telah berbuat syirik. Perhatikan firman Allah Ta’ala dalam hal ini yang artinya:

“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah…” (QS. Luqman:11)

“Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya?…” (QS. Al-Mulk: 21)

Pengenalan seorang hamba kepada tauhid rububiyyah ini merupakan fithrah yang telah digoreskan ke dalam sanubarinya. Bahkan sampai pada hewan dan binatang, tidak ada yang menyangkalnya.

“Berkata rasul-rasul mereka: ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?’…” (QS. Ibrahim: 10)

Sampai Fir’aun sekalipun memiliki fithrah ini.

“Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata’…” (QS. Al-Isra’: 102)

Oleh karena itu, keyakinan terhadap tauhid rububiyyah belum memasukkan seseorang ke dalam Islam. Bukan demi hal itu (tauhid rububiyyah, -red) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerangi Abu lahab dan Abu Jahal beserta kaum Quraisy. Bukan hal itu pula yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terusir dari Makkah, dilempari batu, luka wajahnya?! Poros pertikaian dan inti perselisihan antara para nabi dengan umatnya adalah dalam tauhid kedua yaitu tauhid uluhiyyah.

Tauhid Uluhiyyah

Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba kepada Allah dengan niat mendekatkan diri kepada-Nya. Sekiranya Allah yang mencipta, yang memberi, mengapa yang disembah justru sesuatu yang lainnya?! Sekiranya Allah yang memberi manfaat dan mudharat mengapa harus berharap, takut dan cemas kepada selain-Nya?! Sikap dan perbuatan seperti itu benar-benar tidak adil…sebuah kedzaliman yang nyata. Itulah syirik.

Zaid bin Amr bin Nufail, salah seorang penganut ajaran hanif di Makkah, menomentari sembelihan Quraisy: “Ini kambing, Allah yang menciptakan, Dia pula yang menueunkan hujan dan menumbuhkan rumputnya, lalu kalian menyembelihnya untuk selain nama Allah?!!” (HR. Bukhari: 3540)

Itulah cara berpikir orang-orang musyrik, tidak memposisikan Allah sesuai dengan kadar dan keagungan-Nya. Celakalah mereka!! Ke mana akal yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta?! Di mana fithrah yang suci yang ada dalam dada?!! Mereka berkata:

“Mengapa ia menjadikan Ilah (Dzat yang diibadahi) hanya satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang mengherankan.” (QS Shad: 5)

Mereka merasa aneh ketika para nabi memerintahkan untuk mentauhidkan Allah dalam perbuatan mereka kepada Allah, bahwa tidak ada do’a, puasa, sujud, dan nadzar kecuali kepada Allah. Tidak ada yang ditakuti, diharapkan, dan dicintai kecuali hanya Allah! Tidak ada khusyu’, tawakkal, merendah diri kecuali hanya kepada Allah!

Tauhid Uluhiyyah Inti Dakwah Para Rasul

Tauhid uluhiyyah disebut juga tauhid ibadah, karena mengesakan Allah dalam ibadah seorang hamba. Tauhid uluhiyyah adalah inti dakwah para rasul, semenjak nabi Nuh hingga nabi akhir zaman. Dan ia jalan dan metode dakwah setiap penyeru kebenaran pada setiap tenpat dan zaman. Allah berfirman yang artinya:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut itu’…” (QS. An-Nahl: 36)

Dalam tauhid inilah berkecamuk peperangan antara para nabi dengan kaumnya, sehingga mereka menjadi dua kelompok yang saling bertikai, satu kelompok Allah dan satu kelompok setan. Karena tidak mengertinya manusia tentang hakikat penciptaan. Allah berfirman yang artinya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Berkata Syaikhul Islam: “Ketahuilah bahwa kefakiran seorang hamba kepada Allah agar ia mengibadahi-Nya dan tidak menyekutui-Nya dengan apapun. Tidak ada percontohan dario kebutuhan tersebut sehingga ia dapat dikiaskan. Akan tetapi dapatlah diserupakan dalam beberapa segi dengan kebutuhan seseorang dengan makan dan minum. Sekalipun antara keduanya terdapat perbedaan yang besar. Karena hakikat seorang hamba adalah hati dan ruhnya dan ia tidak akan baik hidupnya kecuali dengan Ilah-nya yaitu Allah yang tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah. Maka, tidak ada ketenangan di dunia kecuali berdzikir kepada-Nya. Ia berletih berpeluh dan akan bertemu dengan-Nya dan tidak ada kebaikan bagi dirinya kecuali harus bertemu dengan-Nya. Sekiranya seorang hamba memperoleh kelezatan dan kebahagiaan selain Allah, niscaya iatidak kekal, karena ia akan berpindah-pindah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, dari individu kepada individu yang lain. Dalam satu waktu ia bisa merasa nikmat dengannya akan tetapi pada waktu yang lain ia tidak akan merasakan nikmatnya, bahkan kadang-kadang menyusahkan dirinya akibat hubungannya dengan sesuatu tersebut atau keberasaan sesuatu tersebut di sisinya. Adapun Ilah-nya maka ia sangat membutuhkan-Nya pada setiap keadaan dan waktu.” (Lihat Majmu’ Fatawa 1/24)

Tauhid Asma’ dan Sifat

Yaitu beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah, sebagaimana yang diterngkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tanpa takwil, ta’thil (menghilangkan makna atau sifat Allah), takyif (bertanya tentang hakikat dna sifat-Nya dengan kata: “Bagamana”), dna tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Allah berfirman yang artinya:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah Ynag Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Dengan mengetahui nama dan sifat Allah, seorang hamba dapat bermu’amalah dengan Allah dalam ibadahnya. Dan tidak akan sempurnya seseorang dalam mengenal Allah kecuali ia harus menganut madzhab Ahlus Sunnah dalam aqidah terutama tentang asma’ wa shifat, yang mana sebagai tempat yang sering menggelincirkan kelompok-kolompok di luar Ahlus Sunnah.

Bagaimana ia beribdah dengan baik, sekiranya ia berkeyakinan seperti keyakinan kelompok Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Allah tidak di luar dan tidak di dalam dan seterusnya, mereka samakan Allah dengan sesuatu yang tidak ada.

Bagaimana ia beribadah dengan baik sekiranya ia mengatakan Allah tidak bersemayam di atas ‘arsy akan tetapi maksudnyamenguasai ‘arsy. Sehingga dengan demikian ia menyatakan bahwa ‘arsy dahulu dikuasai oleh sesuatu lalu baru dikuasai oleh Allah. Kita berlindung dari apa yang mereka sifati!!

Sedangkan Ahlus Sunnah meyakini dalam masalah nama dan sifat Allah yaitu meyakini dna menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dari nama dan sifat-sifat-Nya dengan tidak mentakwilnya dan mentakyif atau mentamtsilnya.

Berkata Imam Ahmad rahimahullah: “Tidaklah seseorang menyifati Allah kecuali dengan apa yang disifati oleh-Nya untuk diri-Nya atau apa yang disifati Rasul-Nya serta tidak boleh melanggar al-Qur’an dna hadits.” (Lihat Kitab Tauhid 1/98 edisi terjemah penerbit Darul Haq)

Semoga Allah menunjukkan kita ke jalan yang lurus. Amin.

[Disalin dari tulisan Ustadz Armen Halim Naro, Lc. Rahimahullah dari majalah al-Mawaddah, edisi 2 tahun ke-1 (1428/2007) ]

*) Semoga Allah menerima semua amalan guru kita tercinta, Ustadz Armen Halim Naro, Lc. rahimahullah, yang telah berpulang menghadap Rabb-nya pada tanggal 26 November 2007. Dan semoga jerih payahnya dalam mendakwahkan manhaj yang haq ini menjadi pemberat timbangan amalnya di akhirat nanti. Do’a dari antum semua Insya Allah bermanfaat buat beliau rahimahullah. Amin.

Comments are closed.