Wajib Mengikuti Cara Beragamanya SAHABAT 2/2

Standard

Oleh
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]Kesembilan belas
Rasulullah telah bersabda:
Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian yang sesudah mereka [Hadist Shahih mutawatir dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dan lain-lain]

Generasi pertama adalah sahabat, yang kedua tabi’in dan yang ketiga adalah tabiut tabi’in. mereka inilah dinamakan dengan nama Salafush Shalih (generasi pendahulu yang shalih) yakni tiga generasi terbaik dari umat ini.
Kepada mereka inilah kita meruju’ cara beragama kita dalam mengamalkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas. Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka dinamakan Salafiyyun dari zaman ke zaman sampai hari ini.

Kedua puluh
Rasulullah telah bersabda pada waktu hajjatul wada’ (haji perpisahan):

Hendaklah orang yang hadir diantara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir. [Hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari jalan beberapa orang sahabat]

Hadist yang mulia ini meskipun bersifat umum tentang perintah tabligh dan dakwah akan tetapi para sahabatlah yang pertama kali diperintahkan oleh Rasulullah untuk bertabligh dan berdakwah, sebagai contoh bagi umat ini dan agar diikuti oleh mereka bagaimana cara bertabligh dan berdakwah yang benar di dalam menyampaikan yang hak. Oleh karena itu hadist yang mulia ini memberikan pelajaran yang tinggi kepada kita diantaranya:

[a] Bahwa dakwah mereka adalah haq dan lurus di bawah bimbingan Nabi yang mulia.

[b] Bahwa mereka adalah orang-orang kepercayaan Rasulullah. Kalau tidak, tentu Rasulullah tidak akan memerintahkan mereka untuk menyampaikan dari beliau.

[c] Bahwa mereka kaum yang benar, lawan dari dusta, yang amanat, lawan dari khianat. Bahwa mereka telah di ta’dil (dinyatakan bersifat adalah : tsiqah/ terpercaya dan dhabt/teliti) oleh Rabb mereka, Allah, dan oleh nabi mereka.
Oleh karena itu Ahlussunnah Wal Jama’ah telah ijma’ bahwa mereka tidak perlu diperiksa lagi dengan sebab di atas. Keadilan dan ketsiqahan mereka tidak diragukan lagi. Allahumma! Kecuali oleh kaum Syi’ah dan Rafhidhah dari cucu Abdullah bin Saba’ si Yahudi hitam dan orang-orang mereka yang dahulu dan sekarang.

[d] Bahwa wajib bagi kita kaum muslimin mengikuti cara dakwahnya para sahabat, bagaimana dan apa yang mereka dakwahkan dan seterusnya. Adapun dalam masalah keduniaan seperti alat dan sarana mengikuti perkembangan zaman dan tingkat pengetahuan manusia, seperti menggunakan kendaraan yang ada pada zaman ini atau alat perekam dan pengeras suara dan lain-lain.

Keduapuluh satu
Rasulullah telah bersabda :
Janganlah kamu mencaci-maki sahabat-sahabatku! Kalau sekiranya salah seorang dari kamu menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya Tidak akan mencapai derajat mereka satu mud-pun atau setegah mud. [Hadist Shahih riwayat Bukhari dan Muslim]

Keduapuluh dua
Para sahabat secara umum telah dijanjikan jannah (sorga). [At-Taubah : 100]

Keduapuluh tiga
Secara khusus sebagian sahabat telah diberi khabar gembira oleh Nabi sebagai penghuni sorga, seperti Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan lain-lain.

Keduapuluh empat
Para sahabat telah berhasil menguasai dunia membenarkan janji Allah di dalam Kitab-Nya yang mulia [Tafsir Ibnu Katsir surat An-Nuur ayat 55]

Keduapuluh lima
Perjalanan orang-orang mu’min yang paling kuat “Ukhuwwah Islamiyyahnya”
ialah para sahabat berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Tarikh.

Keduapuluh enam
Di dalam ayat yang mulia ini Allah tidaklah mencukupkan firman-Nya dengan
perkataan: “Barangsiapa yang memusuhi rasul sesudah nyata baginya kebenaran….,niscaya akan palingkan dia….”. dan kalau Allah mencukupinya sampai disitu pasti hak/benar. Akan tetapi terdapat hikmah yang dalam ketika Allah mengkaitkan dengan “dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min -yaitu para sahabat. Dari sini kita mengetahui, bahwa di dalam berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, harus ada jalan atau cara di dalam memahami keduanya. Jalan atau cara itu adalah “jalannya orang-orang mu’min yaitu para sahabat”. Jadi urutan dalilnya sebagai berikut : Al-Qur’an As-Sunnah. Keduanya menurut pemahaman para sahabat atau cara beragama mereka, aqidah dan manhaj.
[Dikutip dari Kitab besar saya yaitu “Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti]
[Disalin dari Majalah As-Sunnah edisi:02/V/1421-2001M, hal 51-53]

Comments are closed.