Hukum ‘PACARAN’

Standard

 

Tanya  : Bagaimana hukum tentang hubungan sebelum pernikahan?

Jawab  : Jika yang dimaksud penanya dengan “sebelum pernikahan” adalah sebelum resepsi pernikahan, tetapi setelah akad nikah (ijab), maka ini tidaklah berdosa. Sebab, dengan berlangsungnya akad nikah, maka seorang wanita telah sah menjadi istrinya sekalipun belum diadakan resepsi pernikahan. Adapun jika hubungan tersebut dilakukan seelum akad nikah, yaitu selama masa pinangan atau sebelumnya, maka diharamkan. Seorang pria tidak boleh bersenang-senang dengan wanita bukan mahram, baik dengan berbincang-bincang, memandang atau berduaan. Telah diriwayatkan secara shahih dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam yang bersabda : “Laa yakhluwanna rojulun-bimroatin illaa ma’a-dzii mahromin, wa laa tusaafirul-mar-atu illaa ma’a-dzii mahromin.”  “Jangan sekali-kali seorang pria berduaan dengan seorang wanita kecuali jika wanita itu bersama mahramnya dan janganlah seorang wanita bepergian jauh (safar) kecuali bersama mahramnya.”  

Jadi, jika hubungan ini dilakukan setelah akad, maka tidak berdosa, tetapi jika dilakukan sebelum akad, walaupun setelah diterimanya pinangan, maka tidak dibolehkan.

Pacaran dalam islam tidak ada, dan itu termasuk perbuatan sia-sia, keji dan mendekati zina.Dan Ta’aruf atau berarti nadhar atau melihat calon mempelai wanita, maka hukumnya sunnah,adapun beberapa hal yang patut diperhatikan adalah:

  1. Berniat karena Allah, karena asal dari hukum laki-laki melihat wanita yang bukan mahram adalah dosa, maka hendaknya ketika nadhar/melihat calon diniatkan karena ingin menikah, walaupun jika ternyata tidak cocok tidak mengapa.

  2. Ketika melihat calon ditemani oleh wali wanita, entah itu bapaknya, kakak laki-laki dan seterusnya.

  3. Ketika proses ta’aruf berlangsung boleh melihat kepada calon wanita dan bertanya tentang hal-hal demi kemaslahatan pernikahan, seperti: apakah calon mempelai memiliki penyakit yang termasuk aib nikah, seperti: lepra, dan lain-lain, juga sebaliknya calon perempuan dibolehkan bertanya kepada laki-laki.

  4. Hindari khalwah atau berduan tanpa disertai mahram.

  5. Boleh nadhar lebih dari sekali jika dirasa informasi yang di dapat kurang memuaskan.

  6. Wajah seorang wanita menunjukkan kecantikannya, dan telapak tangannya menunjukkan kesuburan.

  7. Untuk hendaknya yang menjadi perhatian utama dalam menuju proses pernikahan adalah kebaikan akhlaq dan agama calon. Laki-laki jangan hanya terfokus pada wajah saja, demikian juga wanita, akan tetapi jika yang menjadi perhatian utama adalah akhlaq maka itu itu lebih utama sebagaimana anjuran Nabi Shallahu alaihi wasallam, … Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena kecantikannya, karena keturunannya, karena kekayaannya, dan karena agamanya, maka pilihlah agamanya, engkau akan beruntung, (Au kamaa qaala Rasul Shallallahu alaihi wasallam).

  8. Jika telah cocok hendaknya langsung melamarnya (khitbah), tanpa menunggu berlama-lama, kemudian ditentukan hari pernikahan.

  9. Hendaknya diperhatikan bagi kedua calon, bahwa walaupun proses melamar telah dijalani, tidak serta merta menjadi halal hubungan keduanya, lantas melakukan misalnya, saling menelphon untuk urusan yang tidak penting yang tidak ada hubungannya dengan pernikahan, atau saling SMS untuk melepas kangen, atau bahkan ketemuan atau dating atau apel.

  10. Segera lakukan pernikahan secara syar’i, semoga kalian diberkahi oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dinukil dari kitab Fatawa An Nazhar wal Khalwah Wal Ikhtilath

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s