Monthly Archives: August 2007

Beberapa Kesalahan pada Bulan Ramadhan

Standard

Wahai hamba Alloh, teladan kita adalah Rasulullah Muhammad Shollollohu ‘alaihi wa Salam dan tiada seorangpun yang lebih layak kita teladani melainkan hanya beliau. Oleh karena itu, segala amalan yang tidak dituntunkan oleh beliau dan diajarkan beliau, maka perkara tersebut adalah tertolak dan wajib kita hindari. Diantara kesalahan-kesalahan tersebut adalah : 

  •  
    • Mempercepat waktu sahur dan memperlambat berbuka puasa. 
    • Menahan diri dari makan dan minum selama beberapa saat sebelum datang waktu subuh yang mereka sebut sebagai waktu imsak. 
    • Memuntahkan makanan dan minuman dari mulut ketika terdengar adzan. 
    • Melafazhkan atau mengucapkan niat berpuasa. 
    • Mempercepat sholat tarawih dan tidak adanya thuma’ninah di saat sholat tarawih. 
    • Membaca sholawat ataupun ucapan selainnya semisal, Shollu sunnata tarawih rak’ataini jami’aa rahimakumullahu!!! atau selainnya setiap jeda sholat tarawih. Yang demikian ini tidak ada sunnahnya dari nabi dan termasuk bid’ah yang jelek di dalam agama. 
    • Mengkhususkan sholat tasbih di bulan Ramadhan. 
    •  Membaca do’a secara berjama’ah setiap setelah sholat tarawih. 
    •  Menentukan surat-surat tertentu pada tiap-tiap roka’at sholat tarawih. 
    • Beranggapan bahwa memotong kuku, membersihkan telinga atau keramas pada siang hari membatalkan puasa.

Dan selainnya yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi yang mulia Shollollohu ‘alaihi wa Salam.

Sumber : http://abusalma.wordpress.com/2007/08/20/beginilah-seharusnya-seorang-muslim-di-bulan-ramadhan/

Advertisements

Wasiat untuk Keluarga dan Anak-Anak

Standard

Wasiat untuk Keluarga dan Anak-Anak Wahai saudaraku muslim! Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَآأَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Artinya, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka{laki-laki}atas sebagian yang lain {wanita}dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa: 34)

Allah telah menjadikan laki-laki sebagai pemimpin bagi para wanita dan ini sesuai dengan fitrah dan naluri manusia, agar alam ini berjalan sesuai dengan hukum-hukum Allah Subhannahu wa Ta’ala .Maka bagi laki-laki memiliki kewajiban untuk mendidik istri dan anak-anaknya dengan pendidikan yang baik dan benar yang akan menjamin kebahagian dunia dan akhirat. Dan pendidikan yang paling penting adalah mengajarkan mereka agama dan adab-adab Islam sebagai realisasi dalam meneladani Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan meniti kehidupan sesuai dengan ajarannya. Wahai para ayah ajarkan dan didiklah anak-anak kalian dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang sholih.Ajarkan juga pokok-pokok keimanan yang telah diterangkan oleh Al-Qur‘an dan biasakanlah mereka untuk berpegang teguh dengan rukun-rukun Islam.

Ajarkan kepada istri dan anak-anak kalian untuk mencintai Allah, tancap-kan keimanan, kecintaan, penghormat-an, dan pengagungan terhadap Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam di dalam hati mereka. Mereka wajib untuk menaati apa yang diperin-tahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, membenarkan setiap berita yang beliau sampaikan dan menjauhi apa yang dilarangnya dan tidak beribadah kepada Allah, melain-kan sesuai dengan apa yang dia syariatkan. Barang siapa yang berpaling dari petunjuknya, maka dia termasuk ahlul bid’ah.Ajarkan mereka untuk mencintai sahabat Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam yang mulia sebagai imam yang telah mendapatkan petunjuk yang lurus. Terangkan kepada mereka bagaimana sahabat beribadah, berakhlak dengan akhlak yang mulia, berilmu yang luar biasa, bersungguh-sungguh dalam beragama. Dan terangkan juga tentang jihad dan perjuangan mereka di jalan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Hingga akhirnya melalui mereka Allah membuka hati dan telinga umat manusia, membuka negara-negara dan kerajaan-kerajaan, dan menghukum orang orang kafir dan munafik dengan kehinaan.

Dan terangkan juga tentang sejarah hidup mereka yang luar biasa, bagai-mana kebenaran Iman mereka dan sempurnanya mereka di dalam mengikuti Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , dalam beribadah, berjihad dan menginfaqkan harta yang amat banyak dalam rangka untuk mencari ridha Allah Subhannahu wa Ta’ala . Dan tanamkan kepada mereka bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang mau mengikuti Sahabat Rasullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan orang yang celaka adalah yang mencela, mendiskreditkan mereka serta menempuh jalan kehidu-pan selain jalan mereka.

Dan perintahkan kepada mereka untuk menunaikan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, perintahkan anak laki-laki supaya berjamaah di masjid bersama kaum muslimin, dan yang perempuan supaya berjamaah bersama ibu mereka di rumah.Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,

Artinya, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepa-damu. Dan akibat(yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (Thaha: 132)

Dan juga pisahkan tempat tidur antara anak laki-laki dan perempuan ketika mereka berumur sepuluh tahun, jauhkan mereka dari kawan yang jelek. Tumbuhkanlah mereka dengan ahklaq ahlu iman, seperti berbakti kepada orang tua, silaturahim, bergaul dengan baik terhadap saudara seagama, senang bersedekah, berbuat yang ma‘ruf dan kebaikan, menghormati tetangga dan tamu, dan mencegah dari perbuatan jelek serta menyakiti sesama manusia.

Dan ajarkan juga tentang keimanan kepada qadla dan qadar, ajarkan agar selalu menghadapi takdir dengan menyerahkannya kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala sebagai Rabb yang mengatur seluruh alam. Karena sesungguhnya Allah yang memberi dan Allah yang memgambil, segala sesuatu datang dari sisi-Nya sesuai dengan waktu yang ditentukan-Nya. Orang yang berbahagia adalah orang yang beriman kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya serta berusaha keras mencari jalan-jalan (wasilah) yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya.

Orang yang celaka adalah orang yang menuyelisihi-Nya, bermaksiat terhadap perintah-Nya, menentang-Nya, kufur terhadap-Nya, benci terha-dap ketentuan-Nya dan berpaling dari takdir-Nya.Jauhilah perkara-perkara yang mengantarkan kepada kemurkaan Allah Subhannahu wa Ta’ala yang mengakibatkan dimasuk-kan ke dalam api neraka bersama orang-orang kafir Allah Ta‘ala berfirman,

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar dan keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu menger-jakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

Jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka, dengan membuka pintu-pintu kebaikan kepada anak dan istri kalian dan selalu mengarahkan mereka kepada kebaikan-kebaikan tersebut, selalu memberi dorongan kepada mereka untuk melaksanakannya, dan hendaknya kalian menjadi teladan bagi seluruh anggota keluarga.Jangan sekali-kali meremehkan pendidikan terhadap keluarga kalian, dan jangan menganggap ringan dalam mengarahkan dan menunjuki mereka didalam kebaikan, karena kalian bertanggung jawab atas mereka.Bersabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam ,

“Sesungguhnya Allah akan menanyakan kepada setiap pemimpin amanah yang diembankan kepadanya; apakah dia menjaganya atau menyia-nyiakannya, sampai seseorang ditanyai tentang keluarganya” (HR. An-Nasai)

Dan bersemangatlah dalam mendidik mereka di dalam kebaikan dunia dan akhirat. Semoga Allah menjadikan kita seperti orang-orang yang Allah firmankan,

Artinya, “Yaitu surga ‘Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan) “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesuda-han itu.” (Ar-Ra’d : 23-24)

Dan bersungguh-sungguhlah dalam mengajarkan mereka tentang Kitabullah dan as-Sunnah serta atsar-atsar (perikehidupan) salafusholih, maka Allah akan memberikan kemuliaan kepada kalian lebih dari yang kalian harapkan, dan akan mengamankan kalian dari mara bahaya apa pun, akhirnya Allah akan mengumpulkan kalian bersama anak dan istri kalian disurga-surga dan akan duduk ditempat orang-orang yang terhormat.Allah berfirman,

Artinya, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (At-Thur : 21)

Sesungguhnya seorang ayah apabila memberikan perhatian serius di dalam mendidik anak dan istrinya serta orang-orang yang menjadi tanggung jawab-nya, maka ia ibarat seseorang yang menebarkan di atas bumi yang subur benih-benih yang paling bermanfaat dan paling baik, yang kelak dengannya akan mendatangkan buah yang melim-pah dan hasil (panen) yang baik.

Tetapi apabila meremehkan pendidikan keluarga dan merasa cukup dengan sekedar memberikan makan, minum, pakaian dan lainnya, kemudian ia tinggalkan begitu saja seperti bina-tang ternak, tidak mengetahui yang halal dan yang haram, dan tidak menunaikan kewajiban dan tanggung jawab, dan tidak ada rasa penghormatan kepada yang tua dan tidak ada belas kasihan terhadap yang muda, maka yang seperti itu justru akan menjadi azab bagi diri mereka, keluarga dan masyarakat seluruhnya.Padahal setiap muslim akan ditanya di hadapan Allah Subhannahu wa Ta’ala tentang beban tanggung jawab yang dipikulnya. Apakah ia tunaikan dan pelihara atau malah justru melalaikan dan menyia-nyiakannya.

Sesungguhnya anak-anak kita, belahan hati kita adalah pemuda-pemuda di hari ini dan merupakan generasi penerus untuk masa depan, jangan kalian melupakan doa untuk mereka, supaya mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah Subhannahu wa Ta’ala agar menempuh jalan yang dicintai Allah dan diridhai-Nya.

Artinya, “Ya Rabb kami, anugerah-kanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Sumber : Buletin, “al-Washiah bil Ahl wal Aulad.” (Azhar Khalid Saif, Lc.), disadur dari http://ummusalma.wordpress.com 

Diantara Keutamaan Ikhlas

Standard

Setiap kita, telah, sedang dan insya Allah akan beramal.Namun, tidak semua amal akan diterima oleh Allah, kecuali jika terpenuhi dua syarat yaitu ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.Apa keutamaan ikhlas? Inilah, sebagian diantara keutamaan tersebut : 

  1. Ia dapat bertawasul kepada Allah dengan amalnya yang ikhlas tersebut, sehingga selamat dari musibah yang menimpanya.
  2. Selamatnya Nabi Yusuf ’Alaihis Salam dari godaan wanita, karena keikhlasannya.
  3. Selamatnya seorang pemuda di Akhirat dan berimannya sebagian besar rakyat, lihat kisah ashabul ukhdud.
  4. Dibukanya pintu-pintu langit, dihapusnya dosa-dosa (yang telah lalu) dan diharamkan neraka baginya bagi yang mengucapkan Laa ilaha illallah dengan ikhlas.
  5. Diangkat derajatnya dan dihapus satu kesalahan, bagi yang sujud dengan ikhlas.
  6. Malaikat bershalawat atasnya, bagi yang ikhlas pergi sholat berjamaah.
  7. Termasuk tujuh golongan yang dinaungi Allah di Hari Kiamat, yang ikhlas bershadaqah.
  8. Dibangunkan rumah di surga bagi yang ikhlas membangun masjid.
  9. Diangkat derajatnya, bagi yang tawadhu’ dengan ikhlas.
  10. Sebagai sebab bagi dirinya menjadi orang yang tidak berkhianat, dengan ikhlas beramal, memberi nasihat yang baik kepada pemimpin dan berkomitmen kepada jamaah kaum muslimin.
  11. Ditolong oleh Allah dengan sebab orang-orang lemah yang ikhlas.
  12. Ditolong dari penyesatan iblis (Shaad 82-83).
  13. Ditambah petunjuk Allah (Al Kahfi 13).
  14. Ketenangan hati, bagi yang berdzikir dengan ikhlas (Ar Ra’d 28).

 Disarikan dari Bedah Buku ‘Ikhlas : Pentingnya Ikhlas dan Bahaya Riya’, disampaikan oleh Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas, JIC, 5 Agustus 2007 

SEPUTAR NIAT

Standard
  • Niat termasuk iman, karena merupakan amalan hati. 
  • Wajib setiap muslim mengetahui hukum dan kedudukan amal yang dilakukannya. 
  • Disyariatkan berniat secara sadar/menyengaja dalam amal-amal ketaatan. 
  • Niat mempengaruhi sah/tidaknya, sempurna/ kurangnya, taat/maksiatnya amal yang dilakukan. 
  • Melafazhkan niat adalah bid’ah. 
  • Amal harus sesuai sunnah, karena ia termasuk syarat diterimanya amal. 
  • Niat yang baik tidak bisa merubah yang haram, munkar atau bid’ah menjadi halal, ma’ruf atau sunnah. 
  • Tujuan/niat yang baik, tidak boleh dilaksanakan dengan menghalalkan segala cara. 
  • Wajib berhati-hati dari penyakit hati : riya’, sum’ah/ingin agar amalnya didengar orang lain, beramal karena dunia. Semua ini bisa menghapus amal-amalnya. 
  • Balasan dari Allah atas amal-amal hamba-Nya, bergantung pada niatnya. 
  •  Wajib setiap muslim memperhatikan dan menjaga hati dan keikhlasan amalnya dari godaan syaitan. 
  • Keutamaan hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu dari negeri syirik/kafir ke negeri Islam. Hijrah ini tetap berlaku selama musuh-musuh Islam diperangi.

Pentingnya Sebuah Niat

Standard

 ¤     Niat disyariatkan untuk : membedakan ibadah dengan kebiasaan, membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lainnya [1].

¤     Perbuatan yang mubah dapat menjadi amal shalih dengan beberapa syarat [lihat hal 16-17].

¤     Niat baik tidak bisa merubah yang haram dan yang bid’ah. ’Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik’ (HR Muslim, At Tirmidzi)

¤     Niat tempatnya di dalam hati, bukan di lisan berdasarkan kesepakatan para Imam Muslimin. Melafazhkan niat menyelisihi sunnah.

¤     Amal shalih hanya akan diterima dengan 2 syarat : ikhlas dan sesuai dengan sunnah.


[1] Imam An Nawawi, silakan merujuk Syarah Hadits Arba’in

Pentingnya Ikhlas

Standard

PENTINGNYA IKHLAS

  إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

‘Sesungguhnya segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya’ [HR Bukhari & Muslim]  

Kedudukan Hadits :  

  1. Kaum muslimin sepakat tentang tingginya hadits ini dan sangat banyak manfaatnya [2].
  2. Hadits ini merupakan 1/3 ilmu[3] dan 70 bab masalah fiqh [4].
  3. Hadits ini termasuk 30 bab masalah ilmu. Selayaknya setiap penyusun kitab memulai dengan hadits ini untuk mengingatkan penuntut ilmu agar lurus dan baik niatnya [5].
  4. Hadits ini merupakan pokok penting dari prinsip-prinsip agama, bahkan pokok setiap amal [6].
  5. Tidak ada satu hadits pun yang paling lengkap cakupannya dan paling banyak manfaatnya kecuali hadits ini [7].

[1] Ringkasan Bedah Buku Ar Rasaa-il jilid 2, disampaikan di Jakarta Islamic Centre, 5 Agustus 2007, Kerjasama Jakarta Islamic Centre dan Tim Kajian Ilmiah Karyawan Astra (TKIKA)[2] Imam Nawawi[3] Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, dll, silakan merujuk Fathul Baari I/11[4] Imam Syafii, silakan merujuk Syarah Shahih Muslim XIII/53

[5] Imam Abdurrahman bin Mahdi, wafat 198H, silakan merujuk Tuhfatul Ahwadzi V/286

[6] Ibnu Taimiyah, silakan merujuk Majmuu’ul Fataawaa XVIII/249

[7] Abu ‘Abdillah, silakan merujuk Tuhfatul Ahwadzi V/286

Candailah Anak Kalian!

Standard

Kelembutan dan kasih sayang adalah salah satu kebutuhan mutlak yang harus diberikan setiap orang tua terhadap anak-anaknya. Alloh Ta’ala menciptakan dan menganugerahkan sifat terpuji ini kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Apabila seseorang memiliki sifat tersebut, dia akan mengasihi dan menyayangi selainnya, dan apabila dia menyayangi orang lain dia pasti akan disayangi Alloh Ta’ala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang2. Rasulullah pernah berkata sambil menangis ketika menyaksikan kematian salah satu putranya:

“(Tangisan) ini merupakan kasih sayang yang dianugerahkan oleh Alloh ke dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh hanya merahmati hamba-hambaNya yang penyayang.”3

Dan suri teladan kita telah menunjukkan berbagai cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayangnya kepada anak-anak baik dari kalangan kerabat atau anak-anak para sahabat yang lainnya.

“Ketika berpapasan dengan mereka, Rasulullah tidak segan mengucapkan salam kepada mereka.”4

Dalam kesempatan yang lain, Ummul Mukminin Aisyah mengatakan bahwa

Pernah suatu hari seorang bayi dibawa kepada Rasulullah, lalu beliau pangku anak tersebut, kemudian anak itu kencing mengenai baju Nabi namun beliau tidak marah dan murka, bahkan Nabi dengan lembut minta air kepada keluarganya untuk disiramkan pada baju yang terkena air kencing bayi tersebut.5

Sesungguhnya Rasulullah telah memberikan petunjuk kepada kita semua di dalam mewujudkan perasaan kasih dan sayang kepada manusia, di tengah segala kesibukannya sebagai pembawa risalah, pemimpin umat, seorang suami, dan lainnya. Beliau tidak mengabaikan masalah-masalah yang ternyata pengaruhnya jauh lebih baik dari yang kita perkirakan, dan insya Alloh kita pun dapat melakukannya atau sebagian darinya. Di antaranya:

1. Mencium Anak Adalah Salah Satu Ungkapan Kasih Sayang Orang Tua

Salah satu bentuk kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya ialah dengan mencium mereka. Sebaliknya, merupakan tanda keras dan kakunya hati seseorang apabila dia tidak pernah mencium anak-anaknya. Dalam suatu hadits dijelaskan, termasuk hal yang biasa dilakukan oleh Nabi adalah mencium anak yang masih kecil:

Dari Aisyah beliau berkata, “Telah datang seorang badui6 kepada Rasulullah, dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau mencium anak-anak kecil? Akan tetapi kami tidak pernah mencium mereka.’ Rasulullah, menjawab, ‘Apakah aku punya kekuasaan untukmu apabila Alloh mencabut kasih sayang dari hatimu?'”7

Dalam hadits yang shahih juga dikisahkan bahwa al Aqra’ bin Habis berkata di hadapan Rasulullah, “Aku mempunyai sepuluh anak dan aku tidak pernah mencium satu pun dari mereka.” Kemudian Nabi, melihat al-Aqra’ dan bersabda, “Barangsiapa tidak kasih sayang (kepada yang lain). maka dia tidak disayang.”8

Inilah petunjuk Nabi dan para sahabat seperti Abu Bakr9, dan semisalnya. Oleh karena itu, tidak ada anggapan tabu bagi kita melakukan apa yang telah dilakukan oleh suri teladan kita, dan generasi pendahulu kita yang telah meninggalkan untuk kita semua apa yang bermanfaat bagi umatnya walaupun menurut kita hal itu sepele.

Bahkan Imam Ibnul Qayyim menulis satu bab dalam hal ini di dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud, dengan mengambil istinbath dari hadits-hadits yang semakna dengan di atas. Beliau mengatakan, “Bab disunnahkan mencium anak-anak”10.

2. Memaklumi Terbatasnya Kemampuan Anak-anak, Lebih-lebih Anak Perempuan

Di antara hikmah Alloh Ta’ala ialah menciptakan manusia dengan segala kemampuan terbatas dan bertahap, sehingga dapat dimaklumi apabila kita menjumpai kebanyakan anak-anak gemar bermain dan melakukan hal yang bersifat sia-sia. Memang inilah masa untuk persiapan mereka menginjak usia yang lebih dewasa. Sehingga para orang tua tidak perlu memaksa mereka dengan usia yang sangat dini membawa mereka kepada masa yang belum waktunya bagi mereka. Misalnya, anak harus terus belajar dan tidak diberi kesempatan bermain sama sekali, atau anak harus selalu serius dan tidak boleh bercanda dengan usianya yang sangat dini, padahal hal ini sangat mereka butuhkan. Benarlah Ummul Mukminin Aisyah tatkala beliau mengatakan:

“Maklumilah keterbatasan anak kecil perempuan (seperti diri-nya) yang masih suka sesuatu yang sifatnya sia-sia.”11

Beliau mengucapkan perkataan ini ketika masih belia dan masih suka melihat orang-orang Habasyah bermain dan menari. Dan suatu ketika beliau menonton . mereka sedang bermain didampingi oleh Rasulullah, sampai merasa puas, dan Nabi pun tidak melarangnya, mengingat beliau tergolong masih kecil dan menyukai hal- hal seperti ini.

Akan tetapi, kita pun tidak boleh terlalu menuruti semua keinginan anak sehingga anak menjadi manja. Sekali-sekali bolehlah kita tidak mewujudkannya apabila keinginan tersebut membahayakan untuk dilakukan, sekaligus ini merupakan salah satu bukti kasih sayang orang tua terhadap anaknya.

Catatan Kaki
… 1 Al Furqan Edisi 6 Tahun V / Muharram 1427

…2 Sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari (I/223), Muslim dalam kitab Al-Jana’iz

…3 HR. Bukhari 1/223, Muslim kitab al-Jana’iz II.

…4 HR. Bukhari bab at-Taslim ‘alash shibyan 6247, Ahmad 121, 174.

…5 HR. Bukhari kitab al-Wudhu 59, Muslim kitab ath-Thaharah 101, 104.

…6 Orang Badui adalah orang yang tinggal di gurun dan pedalaman, jauh dari kota. (Lihat Mukhtar Ash Shihah hal. 18 dan 177).

…7 HR. Bukhari 5998, Muslim 2317.

…8 HR. Muslim 2318.

…9 Sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari (3917, 3918) dari Al Barra’ bin Azib.

…10 Lihat Tuhfatul Maudud bab ke 14.

Di antara bentuk rasa kasih-sayang yang dapat dicurahkan kepada anak, adalah dengan mengikuti pola pikir mereka agar dapat terlibat dalam senda gurau bersama mereka. Inilah yang diajarkan dalam Islam seperti dalam perilaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana bentuk dan konteks keterlibatan kita ini?

3. Ikut Serta Bersenda Gurau Dengan Anak- anaknya Yang Masih Kecil

Sebagian orang berlebihan memberikan kesempatan anak-anak mereka bersenda gurau, sehingga hampir seluruh waktunya terbuang sia-sia demi bergurau dengan anak-anak mereka. Sebagian lainnya sibuk dengan kegiatannya dan sangat merasa rugi kalau waktunya digunakan untuk bermain dengan anak-anaknya, maka terbentuklah pribadi anak-anak sebagaimana akhlak dan perangai orang tua mereka. Tidak mengherankan apabila ada anak yang berkarakter kocak, tidak pernah serius, dan selalu meremehkan sesuatu walaupun itu penting. Atau sebaliknya, ada anak yang selalu serius, tidak pernah tersenyum, mudah tersinggung, dan sebagainya.

Tidak selamanya senda gurau itu tercela. Suatu ketika manusia membutuhkannya. Akan tetapi kebutuhan ini sebatas kebutuhan garam untuk setiap masakan, yang apabila kebanyakan garam berakibat masakan menjadi jelek, begitu pula apabila kurang garam menyebabkan masakan akan hambar, sebagaimana diungkapkan oleh Abul Fath al-Basti:

“Akan tetapi apabila engkau ingin bersendau gurau, hendaklah… hanya sebatas garam yang kau berikan pada makanan.”

Perlu kita ingat bersama, canda dan senda gurau Rasulullah yang patut kita tiru mempunyai beberapa keistimewaan. Di antaranya, Rasulullah bercanda tetapi tidak dengan kedustaan, canda Rasulullah tidak sampai mengurangi martabat dan wibawa beliau, dan canda beliau tergolong sedikit hanya sebatas kebutuhan saja.

Itulah beberapa kriteria senda gurau yang dapat menimbulkan rasa kasih dan sayang, mengusir perasaan-perasaan yang kurang berkenan, membuat orang betah bergaul dengan sesamanya, dan lain-lain. Apabila senda gurau itu dibutuhkan oleh orang dewasa, maka anak-anak yang masih kecil akan lebih membutuhkan senda gurau tersebut. Untuk itulah suri teladan kita, Rasulullah, kadang bersenda gurau dengan anak-anak kecil dengan berbagai cara yang berbeda menurut keadaan dan kebutuhan masing-masing. Di antaranya:

3.1 Kadang-kadang dengan menyebut gelaran atau sebutan yang menarik bagi anak kecil

Ada seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Thalhah. Dia mempunyai putra yang masih kecil. Suatu ketika Rasuiullah menemuinya dalam keadaan sedih, lalu Rasulullah bertanya pada orang tuanya kenapa anak ini sedih. Mereka mengatakan, seekor burung sejenis burung pipit yang biasa jadi mainannya telah mati. Lantas Nabi menegur dengan gelaran untuk menghibur kesedihan anak ini dengan mengatakan: “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan an-nughair?”12

An-nughair adalah pengecilan nama dari burung sejenis burung pipit tersebut. Rasulullah menggelari anak ini dengan Abu Umair (bapaknya Umair) padahal anak ini masih sangat kecil, dan ini dimaksudkan untuk menghibur dan bergurau dengan anak yang sedang sedih ini.

Pada kesempatan yang lain Rasulullah memanggil Anas bin Malik dengan bercanda: “Wahai sang pemilik dua telinga!”13

3.2 Kadang-kadang dengan menggendong dan meletakkannya di atas pundaknya

Seorang sahabat yang bernama al-Barra’ bin Azib mengatakan, “Aku pernah melihat Rasulullah, sedangkan al-Hasan bin Ali berada di atas pundak beliau seraya beliau mengatakan:“Wahai Alloh, sungguh aku mencintainya (al-Hasan yang sedang berada di atas pundak Nabi), maka cintailah dia.”14

Pada kesempatan lain, pernah Rasulullah menggendong cucu perempuannya yang bernama Umamah ketika sedang dalam shalatnya, apabila beliau hendak sujud beliau letakkan cucunya, dan apabila berdiri beliau gendong.15

3.3 Kadang-kadang dengan mendekap anak kecil dari belakang kemudian anak itu disuruh menebaknya

Ada seorang sahabat yang masih kecil dari kalangan penduduk gurun, bernama Zahir. Anak ini bermuka buruk tetapi Rasulullah suka dengannya. Suatu ketika Nabi melihatnya menjual sesuatu di pasar. Lalu Nabi segera mendekapnya dari belakang sedangkan anak ini tidak bisa melihat siapa yang mendekapnya. Lantas ketika tahu bahwa yang mendekapnya adalah Rasulullah maka anak ini senantiasa menempelkan punggungnya ke dada Rasulullah karena dia cinta kepada beliau.16

3.4 Kadang-kadang dengan menyemburkan air ke wajah anak kecil atau sekedar menjulurkan lidahnya supaya anak itu senang

Ada lagi sahabat lain yang masih tergolong sangat kecil yang ‘mendapatkan’ sendagurau Rasulullah, yakni Mahmud bin ar-Rabi’, dia mengatakan: “Aku masih ingat dengan semburan air dari satu ember yang dulu pernah Rasulullah semburkan dari mulutnya pada wajahku. Saat itu aku masih berumur kira-kira lima tahun.”17

Pada kesempatan lain, sahabat Abu Hurairah pernah menceritakan: Dari Abu Hurairah dia berkata, “Pernah dulu Rasulullah, menjulurkan lidahnya kepada al-Hasan bin Ali. Tatkala melihat lidah Rasulullah yang merah, al-Hasan merasa riang gembira dengannya.”18

Demikianlah, beberapa akhlaq Nabi kita yang mulia terhadap anak-anak. Mudah-mudahan bisa menjadi siraman hati dan melunakkan hati yang keras sehingga menjadi lembut sesuai dengan kebutuhan anak-anak yang memang membutuhkan kasih sayang dan kelembutan dari orang tuanya. juga, mudah-mudahan hati kita tidak menjadi kering atau bahkan mati -na’udzu billah min dzalik- dari perasaan tersebut.

Wahai para orang tua, bersegeralah mengoreksi diri! Kasih sayang dan kelembutan ataukah kekerasan dan pukulan yang telah kita berikan kepada buah hati kita? Wallohu A’lam.

Catatan Kaki
…11 HR. Bukhari 5190, Muslim 892.

…12 HR. Bukhari 6129, Muslim 2150.

…13 HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Mukhtashar asy-Syama’il al-Muhammadiyah no. 200.

…14 HR. Bukhari 3749, Muslim 2422.

…15 HR. Bukhari 516, Muslim 2/181.

…16 HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh al-Albani dalam Mukhtashar asy- Syama’il al-Muhammadiyah no. 205.

…17 HR. Bukhari 77.

…18 Lihat Silsilah ash-Shahihah 70.

Ditulis oleh abu ghonam di/pada 5th Mei 2007, Karya Ilmiah Oleh: Abu Ibrahim Muhammad Ali

Tidur Menurut Tuntunan Rasulullah

Standard

TIDUR SEBUAH TANDA KEKUASAAN ALLAHDan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu diwaktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. (Ar-Ruum: 23).

Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. (An-Naba’: 9).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Yaitu termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya Allah menjadikan sifat tidur bagi kalian diwaktu malam dan siang, dengan tidur, ketenangan dan rasa lapang dapat tercapai dan rasa lelah serta kepenatan dapat hilang”. [1]

ADAB TIDUR

1. Anjuran Qoyluulah

Berkata Ibnu Atsir: “Qoyluulah adalah istirahat di pertengahan siang walaupun tidak tidur”. [2] Berdasarkan hadits: Dari Sahl Bin Sa’d dia berkata: “Tidaklah kami qoyluulah dan makan siang kecuali setelah shalat jum’at”. [3] Juga Rasulullah bersabda: “Qoyluulah kalian sesungguhnya syaithon tidak qoyluulah”. [4] Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Hadits di atas menunjukkan bahwa qoyluulah termasuk kebiasaan para sahabat Nabi setiap harinya”. [5]

2. Tidur di awal malam

Rasulullah adalah teladan bagi setiap muslim, maka barang siapa yang memperhatikan tidurnya, niscaya dia akan mendapati bahwa tidurya beliau paling sempurna dan paling bermanfaat bagi tubuh. Beliau tidur diawal malam dan bangun diawal sepertiga malam. Sahabat mulia Ibnu Abbas pernah bertutur:

“Suatu ketika aku pernah bermalam dirumah bibiku Maimunah untuk melihat bagaimana shalatnya Rusulullah, beliau berbincang sejenak bersama istrinya, kemudian tidur”. [6]

3. Dibencinya tidur sebelum lsya’ dan ngobrol setelahnya.

Berdasarkan hadits: Dari Abu Barzah bahwasanya Rasulullah membenci tidur sebelum isya’ dan bercakap-cakap setelahnya. [7] Al-Hafizh lbnu Hajar berkata: “Dibencinya tidur sebelum Isya’ karena dapat melalaikan pelakunya dari shalat isya’ hingga keluar waktunya, adapun bercakap-cakap setelahnya yang tidak ada manfaatnya-pent, dapat meyebabkan tidur hingga shalat shubuh dan luput dari shalat malam”. [8] Kemudian Al-Hafizh menegaskan bahwa larangan bercakap-cakap setetah Isya’ dikhususkan pada percakapan yang tidak ada manfaat dan kebaikan didalamnya. [9]

Adapun percakapan yang bermanfaat maka tidaklah termasuk dalam larangan ini, sebagaimana diterangkan dalam sebuah riwayat bahwasanya Nabi bersama Abu Bakar pernah bercakap-cakap hingga larut malam karena urusan kaum muslimin. [10]

4. Menutup pintu, mematikan api dan lampu

“Matikanlah lampu-lampu diwaktu malam jika kalian hendak tidur, dan tutuplah pintu-pintu, bejana serta makanan dan minuman kalian. [11]

“Janganlah kalian meninggalkan api yang menyala ketika kalian tidur”. [12] Imam Al-Qurthubi berkata: “Berdasarkan hadits ini apabila seseorang tidur sendirian sedangkan api masih menyala di dalam rumahnya hendaklah ia mematikan terlebih dahulu sebelum tidur, demikian pula apabila di dalam rumah terdapat beberapa orang hendaklah orang yang terakhir yang melakukannya, maka barang siapa yang meremehkan hal ini sungguh dia telah menyelisihi sunnah!”. [13] Ibnu Daqiq Al-‘Ied berkata: “Perintah menutup pintu sebelum tidur, di dalamnya terdapat kebaikan duniawi dan ukhrowi yaitu menjaga diri dan harta dari orang-orang yang hendak berbuat jahat, terlebih lagi dari syaithon”.[14]

Perhatian: Perintah mematikan api dan lampu sebelum tidur merupakan tindakan preventif sebelum terjadi kebakaran, apabila aman dan kebakaran -seperti keadaan lampu-lampu masa kini-Pent maka tidaklah mengapa menghidupkannya. [15]

5. Berwudhu

“Apabila kalian hendak mendatangi tempat tidur, maka berwudhulah seperti wudhu kalian untuk shalat”. [16] Imam Nawawi berkata: “Hadits ini berisi anjuran berwudhu ketika hendak tidur, apabila seseorang telah mempunyai wudhu maka hal itu telah mencukupinya, karena maksud dari itu semua adalah tidur dalam keadaan suci khawatir maut menjemputnya seketika itu, maksud yang lain dengan berwudhu dapat menjauhkan diri dari gangguan syaithon dan perasaan takut ketika tidur”. [17]

6. Mengebuti tempat tidur

“Apabila salah seorang diantara kalian hendak tidur maka kebutilah tempat tidurnya dengan ujung sarungnya, karena sesungguhnya dia tidak tahu apa yang akan menimpa padanya”. [18]

Faidah hadits:

1. Sunnahnya mengebuti tempat tidur sebelum tidur. [19]

2. Hendaklah mengebutinya tiga kali. [20]

3. Membaca ‘Bismillah’ ketika mengebutinya sebagaimana hadits riwayat Muslim no. 2714.

4. Bagi orang yang bangun dari tempat tidurnya kemudian kembali lagi, maka dianjurkan untuk mengebutinya kembali. [21]

7. Larangan tidur satu selimut

Berdasarkan hadits: Dari Abu Said Al-Khudri dari bapaknya bahwasanya Rasulullah bersabda: “Janganlah pria melihat aurat pria yang lain dan janganlah seorang wanita melihat aurat wanita yang lain, dan janganlah pria berkumpul dengan pria lain dalam satu selimut, dan janganlah wanita berkumpul dengan wanita lain dalam satu selimut”. [22]

8. Berbaring ke sisi kanan

Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Adalah Nabi tidur dengan berbaring kekanan dan beliau meletakkan tangannya yang kanan dibawah pipinya yang kanan”. [23] Rasulullah bersabda: “Apabila kalian hendak mendatangi tempat tidur, maka berwudhulah seperti wudhu kalian untuk shalat kemudian berbaringlah kesisi kanan” [24] Sahabat Mulia Hudzaifah berkata: “Adalah Nabi apablla tidur beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya”. [25] Imam Ibnul Jauzy berkata: “Keadaan tidur seperti ini sebagaimana ditegaskan oleh pakar kedokteran merupakan keadaan yang paling baik bagi tubuh”. [26]

9. Membaca Ayat Al-Qur’an

Dianjurkan bagi setiap orang yang hendak tidur untuk membaca ayat-ayat AI-Qur’an terlebih dahulu, diantaranya:

1. Membaca Ayat kursi, berdasarkan hadits tentang kisah Abu Hurairah yang diajari oleh syaithon ayat kursi kemudian dia berkata: “Jika engkau membacanya, maka Allah senantiasa akan menjagamu dan syaithon tidak akan mendekatimu hingga pagi.” [27]

2. Membaca surat Al-lkhlas, AI-Falaq, An-Naas, berdasarkan hadits A’isyah dia berkata: “Adalah Rasulullah apabila hendak tidur beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu meniupnya seraya membaca surat Al-lkhlas, AlFalaq, An-Naas, kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangannya kebagian tubuh yang bisa diusap, dimulai dari kepala, wajah dan bagian tubuh lainnya sebanyak tiga kali “. [28]

3. Membaca Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, berdasarkan hadits: Dari Abu Mas’ud Al Badriyyi bahwasanya Rasulullah bersabda: “Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah barang siapa yang membacanya diwaktu malam maka akan mencukupinya”. [29]

10. Membaca Do’a

Banyak sekali do’a sebelum tidur yang telah diajarkan Nabi diantaranya:

“Yaa Allah dengan menyebut nama-Mu aku mati dan hidup”. [30] “Yaa Allah… aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu karena mengharap dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat bersandar dan tempat menyelamatkan kecuali kepada-Mu, Yaa Allah… aku beriman kepada kitabMu yang telah engkau turunkan dan kepada NabiMu yang telah engkau utus”, maka jika engkau meninggal pada malam harinya sungguh engkau meniggal dalam keadaan fithroh dan jadikanlah do’a tersebut akhir yang engkau ucapkan. [31]

11. Apa yang harus dilakukan jika bermimpi?

Dari Abdullah Bin Abu Qotadah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Mimpi yang baik adalah dari Allah, sedamgkam mimpi yang buruk dari syaithon, maka apabila salah seoratg diantara kalian mimpi buruk hendaklah ia meludah kearah kiri dan mohonlah perlindumgan kepada Allah dari kejelekannya, sesungguhnya hal itu tidak akan memadhorotinya”[32] Faidah hadits:

1. Mimpi ada dua macam: baik dan buruk, mimpi yang baik adalah dari Allah sedangkan mimpi yang buruk dari syaithon. [33]

2. Apabila bermimpi baik hendaklah ia memuji Allah dan menceritakannya kepada orang yang menyukai. [34]

3. Sebaiknya apabila ia bermimpi buruk maka hendaklah in memohon perlindungan kepada Allah, kemudian meludah kearah kiri sebanyak tiga kali, berpindah tempat, shalat dua rakaat dan janganlah ia menceritakan kepada seorangpun. [35]

12. Dibencinya tidur telungkup

Berdasarkan hadits: Dari Tikhfah Al-Ghifari dia berkata: Suatu ketika tatkala aku tidur didalam mesjid, tiba-tiba ada seorang yang menghampiriku, sedangkan aku dalam keadaan tidur terlungkup, lalu dia membangunkanku dengan kakinya seraya berkala: “Bangunlah! Ini adalah bentuk tidur yang dibenci Allah, maka akupun mengangkat kepalaku ternyata beliau adalah Nabi.[36] Berkata Syaroful Haq ‘Azhim Abadi: “Berdasarkan hadits ini, bahwa tidur telungkup diatas perut adalah dilarang, dan itu adalah bentuk tidurnya syaithon”. [37]

13. Dibencinya tidur diatas rumah tanpa penutup

Berdasarkan hadits: Dari Ali Bin Syaiban bahwasanya Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang tidur diatas rumah tanpa penutup/penghalang maka sungguh telah terlepas darinya penjagaan”. [38]

14. Do’a ketika bangun tidur

Ketika bangun dari tidur hendaklah kita berdo’a: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setetah sebelumnya mematikan kami dan hanya kepadaNya kami akan dibangkitkan”. [39] Demikianlah pembahasan kita kali ini, akhirmya kita memohon kepada Allah taufik dan hidayah-Nya agar tetap istiqomah dialas jalan-Nya.

Amiin. Wallahu A’lam,

Dikutip dari majalah AlFurqon 05/III hal 40 – 41,  oleh Abu Abdillah Al-Alsari

SEORANG AYAH BERKEWAJIBAN MENDAKWAHI ANAK-ANAKNYA DENGAN CARA YANG TERBAIK

Standard

Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian orang tua yang patuh beragama sering menghadapi kesulitan disebabkan ketidak patuhan anak-anak mereka secara sempurna terhadap hukum-hukum Islam. Misalnya dalam menjaga shalat dan dasar-dasar Islam lainnya, bahkan melakukan beberapa perbuatan maksiat, seprti menonton film, memakan riba, terkadang tidak menghadiri shalat berjama’ah –kadang-kadang-, mencukur jenggot serta kemungkaran-kemungkaran lainnya. Maka apakah sikap seorang ayah yang muslim dan taat (mustaqim) terhadap anak-anak tersebut ? Dan apakah ia harus bersikap keras terhadap mereka atau bersikap lembut ?

Jawaban. Menurut pandangan saya hendaknya (seorang ayah) mendakwahi mereka dengan cara yang terbaik sedikit demi sedikit. Apabila mereka terjatuh dalam beberapa maksiat maka hendaknya ia melihat (maksiat) yang paling berat, lalu memulai (dakwah –pen) dengannya dan mengulang-ulangi diskusi dengan mereka hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan urusan ini dan merekapun meninggalkannya. Namun jika mereka tidak mungkin meresponnya maka perbuatan-perbuatan maksiat berbeda-beda, sebagian di antaranya tidak mungkin membiarkan anak bersama anda sementara ia melakukannya, dan sebagian ada yang dibawahnya. Maka bila seorang menghadapi pertentangan antara dua mafsadah, sementara keduanya pasti harus terjadi atau salah satunya pasti terjadi, maka melakukan yang lebih ringan (mafsadah)nya itulah yang adil dan itulah yang hak. Akan tetapi problem yang juga terjadi adalah kebalikan dari pertanyaan ini, yaitu bahwa sebagian pemuda menemui kesulitan disebabkan penyimpangan ayahnya, dimana sang pemuda itu adalah seorang yang multazim namun ayahnya justru berbeda dari itu. Maka anda akan menemukan ayahnya selalu menentangnya dalam banyak masalah. Kini nasehat saya kepada para bapak tersebut adalah hendaknya mereka takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap diri mereka dan anak-anak mereka, hendaknya mereka memandang arah (perilaku) anak-anak mereka dan istiqomahnya itu sebagai suatu nikmat yang patut mereka syukuri kepada Allah baginya, karena keshalihan anak-anak mereka itu akan bermanfaat bagi mereka ketika masih hidup dan ketika telah mati. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Apabila seorang insane mati maka terputuslah semua amalannya, kecuali dari tiga hal : sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo’akannya” [1] Saya juga mengarahkan pembicaraan kepada para putra dan putri, bahwa ayah ataupun ibu mereka jika memerintahkan kepada kemaksiatan maka tidak ada keataatan dalah hal itu, tidak wajib taat kepada mereka[2], dan menyelisihi mereka –walaupun mereka marah- tidaklah termasuk kedurhakaan, bahkan itu termasuk berbakti dan berbuat baik pada keduanya agar dosa dan kejahatan mereka tidak bertambah disebabkan kalian melakukan maksiat yang mereka perintahkan. Maka apabila kalian menolak berbuat maksiat yang mereka perintahkan, maka sebenarnya kalian telah berbakti pada mereka, karena kalian telah menghalangi mereka untuk tidak menambah dosa. Maka kalian jangan menta’ati mereka dalam kemaksiatan selama-lamanya. Adapun dalam ketaatan yang itu meninggalkannya bukan termasuk maksiat, maka seyogyanya seseorang melihat apakah yang lebih mengandung maslahat. Jika ia melihat yang lebih maslahat adalah menyelisihi mereka, maka hendaknya ia menyelisihi mereka. Akan tetapi hendakanya menyiasatinya jika ketaatan tersebut termasuk yang boleh ditolak dan disembunyikan dari mereka, maka hendaklah ia menolak dan menyembunyikannya dari mereka, maka hendaklah ia menolak dan menyembunyikannya dari mereka. Dan jika (ketaatan) tersebut termasuk (yang mungkin di tolak namun) tidak mungkin disembunyikan maka ia dapat menampakkannya dan berusaha untuk menjelaskan dengan tuntas kepada mereka (para orang tua) bahwa hal itu tidaklah membawa mudharat jika dilakukan, atau dengna ungkapan yang semacamnya yang dapat memuaskan (orang tua).

[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]

Foote Note

[1] Hadits Riwayat Muslim No. 1631 dalam kitab Al-Wshiyah, bab Maa Yalhaqul Insan Min Ats-Tsawaab Ba’da Wafatihi, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

[2] Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak ada keta’atan bagi makhluq dalam bermaksiat kepada Khaliq” Dikeluarkan oleh Ahmad (1/131). Al-Arna’uth berkata : “sanadnya lemah, akan tetapi mempunyai syahid dari hadits Al-Hakam bin Amr Al-Ghifari dan Imran bin Hushain Radhiyallahu ‘anhu pada Ahmad (5/66,67) dan Ath-Thayalisi 856 dan sanadnya shahih, dishahihkan oleh Al-Hakam (2/443) dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Ia juga mempunyai syahid (dari) apa yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. 7145, Muslim no. 1840 dari Ali Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, keta’atan itu hanya pada yang ma’ruf” Lihat Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani (179-181).

Sumber http://www.almanhaj.or.id

PONDOK PESANTREN PUTRI

Standard

Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman ditanya : Bolehkah kita mengirim putri-putri kita ke pondok pesantren Islami yang jauh untuk menuntut ilmu syar’i dan tinggal di tempat tersebut tanpa mahram ?

Jawaban

Masalah ini perlu perincian. Apabila seorang wanita melakukan safar tanpa mahram maka hukumnya haram berdasarkan hadits Bukhari Muslim, bahwa beliau bersabda.

“Artinya : Tidak halal bagi wanita ang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan safar perjalanan satu hari dan satu malam kecuali bersama mahramnya”.

Kata “imroati’ dalam hadits ini nakirah dan jatuh setelah “la nahiyah” (larangan) yang berarti umum. Maksud hadts ini adalah setiap wanita siapapun orangnya, bagaimanapun keadaannya, kapanpun, dimanapun dan segala jenis safar baik safar ketaatan, rekreasi dan safar mubah. Hal ini merupakan pendapat mayoritas ulama selain Sya’ifiyah, mereka berpedoman dengan argument yang amat rapuh untuk memperbolehkan wanita safar tanpa mahram bersama wanita sesamanya. Seandainya Nabi membawakan hadits diatas dihadapan kita semua dan kitapun mendengarnya dengan telinga kita kemudian kita ingin berkilah, apakah yang akan kita lakukan pada beliau ?! Kita tidak boleh berkilah. Kewajiban kita hanya mengatakan “Kami mengdengar dan taat”.

Adapun apabila seorang wanita tadi safar bersama mahramnya, tinggal di tempat yang aman, tidak melakukan safar kecuali bersama mahramnya, tidak campur baur dengan laki-laki, untuk menuntut ilmu syar’i dan menjauhi fitnah, maka hal itu diperbolehkan karena termasuk kewajiban wanita adalah menuntut ilmu. Para sahabat dahulu juga pergi ke rumah-rumah para istri Nabi untuk masalah-masalah penting dan mereka juga belajar kepada para sahabat wanita, bahkan imam Az-Zarkasyi menulis sebuah kitab yang tercetak berjudul “Al-Ijabah Lima Istadrakathu Sayyidah Aisyah ‘Ala Shahabah” (Beberapa kritikan Aisyah kepada sahabat). Demikian pula kitab Shahih Bukhari, di kalangan orang-orang belakangan, sanadnya bersumber dari Karimah Al-Marwaziyyah, dimana para ulama abad kedelapan, kesembilan dan kesepuluh mengambil sanad Shahih Bukhari dari Karimah.

Nabi bersabda, “Artinya : Sesungguhnya wanita itu saudara lelaki”

Dan Nabi juga bersabda, “Artinya : Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”

Hadits ini meliputi muslimah juga, sekalipun tambahan lafadz “Muslimah”

dalam hadits diatas tidak ada dari Nabi.[1]

Ada kisah menarik juga yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini : Ada seorang wanita pada abad kesebelas bernama Wiqayah, seorang wanita pintar dari Maghrib. Para ulama Maghrib apabila mengalami kesulitan, mereka mengatakan : “Marilah kita pergi ke Wiqayah karena sorbannya lebih baik daripada sorban-sorban kita”. Akhirnya, merekapun belajar dan meminta fatwa padanya.

Dan termasuk keajaiban sejarah tidak ada seorang perawi wanita satupun yang berdusta pada Rasulullah. Seluruh ulama yang menulis tentang para perawi pendusta tidak ada yang menyebutkan seorangpun dari wanita pendusta. Adapun kaum laki-laki, maka betapa banyak kitab-kitab yang berisi tentang para pendusta dari kalangan mereka. La Haula wa La Quwwata illa billahi.

Maka seorang wanita apabila anda membimbingnya kejalan yang baik, mereka akan menjadi baik dan pahalanya bagi kedua orang tuanya sampai hari kiamat.

Namun bagi orang tua hendaknya tetap menjaga hukum syar’i. Dan tempat yang paling baik untuk menimba ilmu bagi wanita adalah seorang suami yang shalih, penuntut ilmu dan bertaqwa kepada Allah. Oleh karena itu, bagi orang tua hendaknya berupaya memilihkan suami terbaik bagi anaknya.

Syaikh Zamil Zainu pernah bercerita padaku tatkala beliau ingin menikahkan putrinya dengan salah satu saudara kami di Yordania. Katanya : Ketika saya di masjid, maka saya duduk di bagian belakang untuk melihat shalatnya para pemuda sehingga saya memusatkan perhatian kepada seorang pemuda yang paling baik shalatnya, paling khusyu’ dan lama berdirinya. Kemudian saya mencari lagi pada shalat shubuh dan Isya’ sehingga saya menemukan seorang pemuda yang rajin dan tidak malas. Lalu saya mendatangi pemuda tersebut dan bertanya padanya : “Apakah anda sudah menikah ?” Jawabanya : Belum. Saya bertanya lagi : Maukah engkau saya nikahkan dengan putriku ? Jawabnya :

Subhanallah, siapa yang tidak mau ?! Akhirnya saya menikahkannya dengan putriku. Demikianlah selayaknya yang dilakukan oleh para orang tua.

Oleh karenanya, saya sarankan kepada bapak penanya yang ingin memondokkan putrinya, hendaknya tidak tergesa-gesa. Masih ada pondok yang jauh lebih baik bagi putrinya daripada pesantren yaitu seorang suami yang shalih.

Hendaknya dia berupaya mencari dan menawarkan putrinya. Hal ini bukanlah suatu aib, bahkan manhaj para sahabat. Kalian semua mungkin sudah tahu kisah Umar bin Khattab yang menawarkan putrinya Hafshah kepada Abu Bakar lalu beliau diam dan kepada Utsman lalu beliaupun diam. Beliau berdua diam karena pernah mengatahui bahwa Rasulullah menginginkan Hafshah[2]. Padahal umur Umar bin Khattab saat itu sebanding dengan Nabi atau lebih kurang satu atau dua tahu dari beliau. Saya tidak menuntut supaya kita menawarkan putri-putri kita kepada sahabat dan handai taulan kita, karena barangkali hal itu diluar kemampuan kita, tetapi kita berupaya mencari pemuda dengan mempermurah mahar dan kita minta padanya supaya membimbing dan mengajari putri kita tentang Al-Qur’an, fiqih dan sebagainya. Dikisahkan bahwa imam Malik mempunyai seorang putri, tatkala suaminya hendak berangkat ke majlis imam Malik, istrinya mengatakan : Hendak kemanakah engkau ? Jawab suaminya : Hendak ke majlis ayahmu. Istrinya berlata : Duduklah, karena ilmu ayahku ada di hatiku.

Semoga Allah merahmati para wanita salaf.  Inilah yang saya anjurkan kepada penanya.

[Disarikan dari soal jawab bersama Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman pada acara daurah di Lawang Jatim tanggal 24-28 Rabiuts Tsani 1424H, dan dimuat di majalah Al-Furqan Edisi 12/th 11]

_________

Foote Note

[1]. Lihat Al-Maqashidul Hasanah hal.227 oleh Imam As-Sakhawi dan Takhrij Musykilaatil Faqr hal. 48-62 oleh Al-Albani]

[2]. Hadits Riwayat Bukhari 5127]

sumber http://www.almanhaj.or.id