Perkataan Ulama Seputar Meninggalkan Shalat Berjamaah

Standard
  • Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Saya tidak menganggap ada rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat berjamaah bagi orang yang mampu melakukannya tanpa ada udzur’ . (Al-Umm, I/154). Beliau juga berkata: “Hendaknya anak-anak diperintahkan datang ke masjid dan berjamaah agar terbiasa.” (Al-Iqna’, I/151).
  • Imam Nawawi, ulama dari kalangan madzhab Syafi’i berkata: “Shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain, tetapi ia tidak merupakan syarat shahnya shalat.” (Al-Majmu’ , IV/75). Pendapat shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain juga datang dari ulama Syafi’i muta’akhkhirin yang lain, seperti Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir dan Ibnu Hibban. (Fathul Bari, II/126)
  • Abu Sulaiman Al-Khaththabi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya shalat berjamaah adalah wajib. Jika hukumnya sunnah tentu lebih utama bagi orang yang dharurat dan lemah untuk meninggalkannya, juga orang yang keadaannya seperti Ibnu Ummi Maktum.” (Shahihut Targhib wat Tarhib, 246).
  • Atha’ bin Abi Rabah berkata: “Tidak seorang pun dari makhluk Allah, baik di kota maupun di desa memiliki rukhshah untuk meninggalkan shalat berjamaah jika mendengar seruan (adzan).” (Shahihut Targhib wat Tarhib, 246).

Sumber: Risalah Ajilah ila Jaril Masjid, Muhammad Al-Musnid; Ila Man Takhallafa an Shalatil Jamaah, Hamd Al-Huraiqi; Al-Mutakhallifun an Shalatil Jamaah , Abdul Azis Rawah: Ahammiyatu Shalatil Jama’ah, Dr. Fadhl Ilahi. dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s