6 Perkara Penting dalam Agama

Standard

Berikut adalah  enam perkara penting dalam agama yang diambil dari kitab Al Ushul As Shittah karya Syaikh Muhammad At-Tamimi yang disyarah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin : 

1. Ikhlas dalam agama dan melawan kemusyrikan
Ikhlas menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin yaitu beribadah kepada Allah semata-mata hanya untuk taqarub (mendekatkan diri) kepadaNya dan untuk memperoleh apa yang ada disisiNya. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta Alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). [Qs. Al-An’am: 162-163] 

2. Bersatu dalam agama dan tidak berpecah belah
“Dan berpenganglah kamu semua kepada tali agama Allah dan jangan kamu bercerai-berai” [Qs. Ali Imran : 103]
“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, maka tidak boleh salah satu menzhalimi yang lain, tidak pula merendahkan dan menghinanya.” [HR. Bukhari].
“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan lain” [HR. Bukhari].

3. Mendengar dan patuh kepada pemegang urusan kaum muslimin (ulil amri)
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri diantara kamu.” [Qs. An-Nisaa’: 59]
“Hendaklah kalian semua mendengar dan taat walaupun yang memerintah kalian adalah seorang hamba habasyi” [HR. Al Bukhari]
“Barangsiapa yang melihat sesuatu (yang dibenci) pada imamnya maka hendaklah ia bersabar, karena barangsiapa yang memisahkan diri dari Al-Jama’ah sejengkal saja, kemudian mati maka matinya dalam keadaan jahilliyah.” [HR. Al Bukhari]
Akan tetapi ketaatan terhadap pemimpin, tidaklah mutlak, yaitu selagi ia tidak menyuruh bermaksiat kepada Allah. “Wajib seorang muslim untuk mendengar dan taat baik terhadap perkara yang ia sukai maupun yang ia benci kecuali jika disuruh untuk bermaksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.” [HR. Al Bukhari] 

4. Penjelasan tentang ilmu dan fuqahaa serta orang yang seperti mereka.
Ilmu adalah pengetahuan tentang apa-apa yang diturunkan oleh Allah berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam. “Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” [Qs. Az-Zumar: 9] 

5. Mengenal wali-wali Allah yang sebenarnya
Wali Allah adalah siapa saja yang beriman kepadaNya, bertakwa dan beristiqamah diatas agamaNya. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”. [Qs. Yunus: 62-63]Wali Allah bukanlah orang yang terjaga dari dosa dan ia mempunyai jalan (tharikat) tersendiri yang langsung dari Allah atau orang yang nyeleneh (tidak wajar).

6. Melawan kerancuan/syubhat yang ditanamkan syetan untuk menjauhkan kita dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Tidak boleh sesorang taklid buta, namun hendaknya ia berusaha untuk mengkaji Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar. 

Maraji’: Al Ushul As Shittah (Syaikh Muhammad At-Tamimi), Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s