20 Kesalahan Dalam Beraqidah

Standard

Kondisi umat Islam sekarang ini sudah sedemikian memprihatinkan. Kesalahan-kesalahan dalam pengamalan sehari-hari mereka tampilkan, baik dalam bentuk lisan, amalan atau keyakinan. Dan lebih parah lagi mereka tidak sadar bahwa bila telah melakukan suatu kesalahan. Oleh karena itu kami akan mengangkat kesalahan-kesalahan umat Islam dalam permasalahan aqidah yang telah menyebar dan begitu popoler di masyarakat. Semoga kita bisa mengambil manfaat darinya. 

1. Kesalahan memahami kalimat Laa ilaha illallah. Ini merupakan kesalahan esensial di tengah masyarakat muslimin dewasa ini. Kalimat tauhid ini menuntut perkara-perkara lain, sehingga agama itu hanya untuk Allah dan kita wajib mengingkari sesembahan selainNya. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu.” (An-Nahl 36)  

2. Istihzaa’ (memperolok) perkara-perkara agama. Menghina syariat berarti menghina pembuat syariat, yaitu Allah dan menghina Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Katakanlah,”Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. (At-Taubah: 65-66) 

3. Ungkapan, “Ini sudah kehendak takdir”, atau, “Jika zaman sudah berkehendak maka akan menjadi begini dan begini”. Zaman dan takdir tidak memiliki kehendak. Kehendak dan takdir hanya milik Allah. “Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya’.( Al-Furqan: 2) 

4. Perkataan dalam ilmu Biologi/Kimia, “Partikel ini tidak mungkin bisa hancur” atau “Tidak mungkin zat ini akan terbentuk” dan ucapan-ucapan lain yang senada.Allah-lah yang menciptakannya dan semua makhluk pasti akan mengalami kehancuran atau kematian. Kemudian Allah hidupkan pada saat yang lain sesuai dengan kehendak Allah. “Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun’ (Al-Mulk : 2) 

5. Mengeluh dan mencela waktu. Kesalahan seperti ini lebih banyak dilakukan oleh para penyair, seniman dan sastrawan. Contohnya, “Zaman telah berkhianat” atau “Zaman telah gila” dll.  

6. Melecehkan syariat dengan perkaatan ‘Hal itu tidak penting karena taqwa itu tempatnya di hati’ ketika diingatkan dengan sunnah seperti, “Pakailah jilbab !” atau, “Peliharalah janggutmu” atau, “Naikkanlah pakaianmu diatas mata kaki”.  

7. Perkataan “Seandainya tadi ini yang dikerjakan tentu terjadi begini dan begini” setelah terjadi kejadian yang tidak disukai. “Bersungguh-sungguhlah pada suatu yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah merasa lemah ! Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan, “Seandainya saya mengerjakan begini maka akan terjadi begini” akan tetapi ucapkanlah, “Allah sudah mentakdirkan dan apa yang Dia dikehendaki Allah pasti akan terjadi”. Sesungguhnya ucapan, ‘Seandainya’ akan membuka peluang syaithan.” (HR. Muslim)   

8. Do’a “Semoga Allah memanjangkan umurmu” atau, “Semoga Allah mengekalkan hari-harimu”. Hal ini tidak diperbolehkan karena tidak akan pernah ada seorangpun yang kekal. ’Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan’ (Ar-Rahman : 26-27)Jika ingin mendo’akan orang lain, ucapkanlah, “Semoga Allah memanjangkan umurmu dalam ketaatan” karena hidup tidak akan berguna jika jauh dari ketaatan kepada Allah.  

9. Salah memahami ‘Ibadah’. Sebagian orang menyangka bahwa ibadah hanya berkisar pada shalat, puasa, zakat dan haji. Padahal ibadah itu mencakup seluruh cabang-cabang iman yang jumlahnya sekitar tujuhpuluh lebih. “Iman itu ada 70 atau 60 cabang lebih. Yang paling afdhal adalah ucapan laa ilaaha illaallaah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu termasuk cabang dari iman”. (HR. Muslim)   

10. Munculnya kerancuan, “Terkadang kecanggihan teknologi bisa membantah nash (teks) dari Al-Qur’an maupun dari Hadits.” Wajib bagi seorang muslim berkeyakinan bahwa Al-Qur’an ataupun Hadits yang shahih tidak mungkin bertentangan dengan teknologi yang benar.   

11. Penggunaan nama yang mengandung penyucian diri, seperti : Iman, Fitnah, Abrar, Mallak dan lain sebagainya.   

12. Dugaan “Semua perkara itu sudah ditakdirkan, maka kita tidak perlu berdo’a kepada Allah.”“Tidak ada yang bisa merubah takdir kecuali do’a”. (Dihasankan oleh Al-Albani). Maksudnya, bahwa do’a termasuk penyebab. Kadang-kadang Allah menghindarkan musibah seseorang disebabkan do’a. Atau Allah memberikan kebaikan anak dan rizki juga disebabkan do’a. Do’a merupakan ibadah dan kita diperintahkan untuk berdo’a. Do’a merupakan sebab dari takdir dan sesungguhnya do’a juga sudah ditakdirkan oleh Allah.  

14. Sebagian orang menggantungkan tulisan yang berlafadz Allah dan Muhammad secara sejajar di dinding rumah, papan, kitab, dll.Hal ini termasuk larangan, karena menjadikan tandingan bagi Allah. “Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Al-Baqarah: 22)   

15. Persaksian ucapan dengan ‘Syahid’ terhadap orang yang meninggal di jihad fisabilillah. Karena hanya Allahlah yang mengetahui keadaan hati orang tersebut.Selayaknya kita mendoakan dengan mengatakan, “Semoga dia termasuk syahid”, bukan dengan “syahid Fulan.”  

16. Merasa ada keberuntungan atau kesialan berkaitan dengan mushaf (al-Qur’an). Maksudnya, ketika menjumpai ayat yang didalamnya ada kebaikan, maka optimis mendapatkannya dan sebaliknya. Para ulama melarang hal semacam ini.   

17. Penulisan SAW untuk mempersingkat Hal ini termasuk menghilangkan pahala shalawat atas Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam. “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali karenanya.”( HR Abu Dawud)  

18. Mengiringi doa dan masyi’ah (kehendak) seperti “Mudah-mudahan Allah merahmatimu, Insya Allah!” atau “semoga Allah memberikan rizqi kepadamu, Insya Allah !”Karena terkandung sikap masa bodoh terhadap doa kita (dikabulkan atau tidak terserah Allah Ta’ala) tanpa adanya harapan.   

19. Mencaci-maki syetan.“Janganlah kalian mencela syetan dan berlindunglah kepada Allah dari keburukkannya” (As-Shahihah no. 2422 dikeluarkan Ad-Dalimi dan selainnya).  

20. Merasa akan mendapat sial pada bulan safar, dengan berkeyakinan akan banyak terjadi “bala” sehingga menunda safar (berpergian), pernikahan dan lain-lainnya. “Tidak ada penyakit menular, tidak ada tathayur, tidak ada hammah tidak ada safar”. (HR. Bukhari 5757, Muslim 2220)   

Demikianlah 20 kesalahan dalam beraqidah yang telah menyebar dan begitu populer di tengah umat. Pun masih banyak didapati kesalahan-kesalahan aqidah yang lain. Semoga Allah senantiasa membimbing kita, sehingga terhindar dari kesalahan-kesalahan tersebut. Amiin. Wallahu ‘alam.  

Diambil dari majalah As-Sunnah – Solo; edisi 5 tahun 2002 “Amar Makruf Nahi Mungkar”, diketik ulang oleh ummu raihanah untuk Jilbab Online, sumber jilbab online dengan beberapa editing.     

Comments are closed.