Sarana & Media Tazkiyatun Nufus

Standard
  1. Merealisasikan Tauhid. Ini hal yang paling penting dalam melakukan Tazkiyatun Nufus,
    “Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menyekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat (tauhid) dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat”. (Fushshilat:6-7).
    Ibnu Abbas menjelaskan makna zakat dalam ayat tersebut dengan makna tauhid (Shafwatut Tafasir, Ali ash-Shabuni, jilid 3 hal 116). Yaitu mengikrarkan syahadat lâ ilâha illallâh, sebab dengan mengikrarkan hal itu akan menyucikan hati, karena kandungan kalimat tauhid tersebut adalah mengikis habis dan mengosong kan dari lubuk hati kita segala bentuk tuhan yang bathil. Artinya menyucikan hati kita dari segala kotoran syirik, lalu kita penuhi isi hati kita dengan menetapkan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang kita ibadahi dan yang kita sembah. Kita menyucikan hati kita dengan menauhidkan Allah, dan inilah dasar, pondasi, serta azaz penyucian jiwa. Tanpa tauhid seseorang tidak akan bisa menyucikan jiwanya. Tauhid adalah suci, sedangkan syirik adalah kotoran dan najis, dua hal yang kontradiktif yang mustahil bersatu.
  2. Menjaga Amalan Hati; ikhlas, cinta, takut, harapan, tawakkal, sabar, ridha, tunduk, patuh dan lain-lain. Perlu diketahui bahwa amalan hati jauh lebih utama daripada amalan lahiriah, karena amalan lahiriah adalah cerminan hati, kalau hatinya bersih akan menampil kan amalan yang bersih dan begitu pula sebaliknya.
  3. Menunaikan shalat. Shalat adalah realisasi tauhid yang paling utama, sebab shalat itu menyucikan jiwa kita dari segala kotoran dosa dan maksiat. “Bagaimana menurut kalian kalau sebuah sungai ada di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian (dan) dia mandi di situ 5 kali dalam sehari, apakah menurut kalian masih ada kotoran yang menempel pada tubuhnya?” Mereka menjawab, “Tentu tidak ada”. Lalu beliau bersabda, “Demikian halnya dengan shalat yang lima waktu, yang dengannya Allah membersihkan dosa-dosa yang diperbuat nya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
  4. Bersedekah. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (At-Taubah:103). Dalam ayat ini dijelaskan bahwa bershadaqah membersihkan dan menyucikan dari dosa-dosa mereka yang telah lalu.
  5. Melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangan Allah dan Rasul-Nya.
    “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (An-Nur/24:30). Allah menjelaskan bahwa orang yang melaksanakan perintah-Nya adalah yang mau menyucikan jiwanya sehingga Allah memuji mereka, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya”. (Asy-Syams:9-10).
  6. Bermuhasabah“Seorang yang cerdik adalah orang yang mengoreksi diri dan beramal untuk menghadapi kematiannya” (HR Ahmad). Hasan Al-Bashri mengatakan, “Seorang mukmin adalah pemimpin atas dirinya sendiri dan mengoreksi dirinya karena Allah”.

    Disusun oleh Abu Abdillah Dzahabi dari berbagai sumber.  Sumber : alsofwah.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s