TENTANG IMAN

Standard

Iman menurut bahasa artinya percaya, sedangkan menurut definisi syar’i, iman adalah pembenaran dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota tubuh. Jadi iman itu mencakup tiga hal, yaitu : 

  1.  Ikrar/pernyataan dengan hati 
  2. Pengucapan dengan lisan 
  3. Pengamalan dengan anggota badan 

Iman bisa bertambah atau bisa saja berkurang. Nilai pernyataan itu tidak selalu sama. Pernyataan karena memperoleh satu berita, tidak sama dengan jika langsung melihat persoalan dengan kepala mata sendiri. Pernyataan karena memperoleh berita dari satu orang tentu berbeda dari pernyataan dengan memperoleh berita dari dua orang, dan seterusnya.  Iman akan bertambah tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya. Ketika menghadiri majlis ilmu dan mendengarkan nasehat tentang surga dan neraka, maka imannya akan bertambah sehingga seakan-akan ia menyaksikannya dengan mata kepala. Namun ketika ia lengah dan meninggalkan majlis itu, maka bisa jadi keyakinan dalam hatinya akan berkurang.

Iman juga akan bertambah tergantung pada pengucapan, maka orang yang membaca 10 ayat tentu berbeda dengan yang membaca 100 ayat. Yang kedua tentu lebih banyak tambahannya.

Demikian halnya dengan orang yang beribadah secara sempurna tentunya akan lebih bertambah imannya ketimbang orang yang ibadahnya kurang. Dalam hal amal perbuatan pun juga demikian, orang yang amalan dengan anggota badannya jauh lebih banyak daripada orang lain, maka ia akan lebih bertambah imannya daripada orang yang tidak melakukan perbuatan seperti dia.

“Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya”. (Al-Mudatstsir : 31)

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata : ‘Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini ?’ Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. (At-Taubah : 124-125)

Sumber : Kitab Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan, Karya : Syekh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s