Home

Menjaga lidah disebut juga hifzhul-lisân. Lidah itu sendiri merupakan
anggota badan yang benar-benar perlu dijaga dan dikendalikan. Lidah
memiliki fungsi sebagai penerjemah dan pengungkap isi hati. Oleh karena
itu, setelah Nabi n memerintahkan seseorang beristiqomah, kemudian
mewasiatkan pula untuk menjaga lisan. Keterjagaan dan lurusnya lidah
sangat berkaitan dengan kelurusan hati dan keimanan seseorang.

Di dalam Musnad Imam Ahmad, dari Anas bin Mâlik , dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا
يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ
الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah.
Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya
istiqomah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari
kejahatan-kejahatannya, ia tidak akan masuk surga”. [8]

Dalam hadits Tirmidzi (no. 2407) dari Abu Sa’id al-Khudri, Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ
اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ
اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Jika anak Adam memasuki pagi hari, sesungguhnya semua anggota badannya
berkata merendah kepada lisan: “Takwalah kepada Allah dalam menjaga
hak-hak kami. Sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau
istiqomah, maka kami juga istiqomah. Jika engkau menyimpang (dari jalan
petunjuk), kami juga menyimpang”.[9]

Oleh karena itu, seorang mukmin hendaklah menjaga lidahnya. Apa jaminan
bagi seseorang yang menjaga lidahnya dengan baik? Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ
لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya
dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga
baginya”.[10]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan, menjaga lidah
merupakan keselamatan.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا
النَّجَاةُ قَالَ أَمْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ
وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, ia berkata: “Aku bertanya, wahai Rasulallah,
apakah sebab keselamatan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: “Kuasailah lidahmu, rumah yang luas bagimu, dan tangisilah
kesalahanmu”. [HR. Tirmidzi, no. 2406].

Maksudnya, janganlah berbicara kecuali dengan perkara yang membawa
kebaikan, betahlah tinggal di dalam rumah dengan melakukan
ketaatan-ketaatan, dan hendaklah menyesali kesalahan-kesalahan dengan
cara menangis.[11]

Imam an-Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) berkata: “Ketahuilah,
seharusnya setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga
lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas maslahat
padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama maslahatnya,
maka menurut Sunnah adalah menahan diri darinya. Karena perkataan mubah
bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau makruh. Kebiasaan ini,
bahkan banyak dilakukan. Sedangkan keselamatan itu tidak ada
bandingannya.

Diriwayatkan dalam Shahîhain, al-Bukhaari (no. 6475) dan Muslim (no.
47), dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam, ia bersabda.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا
أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah dia berkata
yang baik atau diam”.

Hadits yang disepakati keshahîhannya ini merupakan nash yang jelas.
Hendaklah seseorang tidak berbicara kecuali jika perkataan itu merupakan
kebaikan, yaitu yang nampak maslahatnya. Jika ia ragu-ragu tentang
timbulnya maslahatnya, maka hendaklah ia tidak berbicara.

Imam asy-Syafi’i berkata: “Jika seseorang menghendaki berbicara, maka
sebelum berbicara hendaklah ia berfiikir; jika jelas nampak maslahatnya,
maka ia berbicara; dan jika ragu-ragu, maka tidak berbicara sampai
jelas maslahatnya”.[12]

Selain itu, lidah merupakan alat yang berguna untuk mengungkapkan isi
hati. Jika ingin mengetahui isi hati seseorang, maka perhatikanlah
gerakan lidahnya, isi pembicaraannya, dan hal itu akan menunjukkan isi
hatinya, baik orang tersebut mau maupun enggan.

Diriwayatkan bahwasanya Yahya bin Mu’adz berkata: “Hati itu seperti
periuk dengan isinya yang mendidih. Sedangkan lidah itu adalah
gayungnya. Maka perhatikanlah ketika seseorang berbicara. Karena
sesungguhnya, lidahnya itu akan mengambilkan untukmu apa yang ada di
dalam hatinya, manis, pahit, tawar, asin, dan lainnya. Pengambilan
lidahnya akan menjelaskan kepadamu rasa hatinya”.[13]

[8]. HR Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin, 3/13.
[9]. HR Tirmidzi, no. 2407, dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin, 3/17, no. 1521. Lihat pula Jami’ul ‘Ulûm wal-Hikam, 1/511-512.
[10]. HR Bukhâri, no. 6474. Tirmidzi, no. 2408. Dan lafazh ini milik al-Bukhâri.
[11]. Tuhfatul-Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi.
[12]. Al-Adzkâr, Imam an-Nawawi. Tahqîq dan Takhrîj: Syaikh Salim al-Hilâli, Penerbit Dar Ibni Hazm, Cet. 2, Th. 1425H/2004M, 2/713-714.
[13]. Hilyatul-Au’iyâ`, 10/63. Dinukil dari Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm, 159.

Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Diringkas dari : http://www.almanhaj.or.id/content/2749/slash/0

About these ads

One thought on “MENJAGA LIDAH

  1. Pingback: menjaga lidah « Salsabilazakaria's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s